giovedì 25 settembre 2014

Menikah = Sinkronisasi jam tangan (4)


4) Tetap berbeda, tetapi saling tergantung. Kita terbiasa melakukan segala sesuatu secara mandiri, sendiri dan dalam kesendirian atau bersama-sama dengan orang lain? Dalam keluarga, beberapa contoh diskusi seperti ini kerap muncul. Misalnya, apakah berpartisipasi dalam doa lingkungan atau latihan koor bersama-sama di lingkungan adalah buang-buang waktu saja? Apakah membawa anak-anak untuk ikut bina iman di wilayah, mendorong remaja untuk ikut kegiatan OMK atau melibatkan diri sebagai volunteer untuk kegiatan-kegiatan di paroki itu tidak baik bagi perkembangan mereka? Bagaimana mengefektifkan komunikasi bagi keluarga yang semuamnya berkarier, dimana waktu efektif untuk bertemu, berkumpul, tinggal bersama dan menghidupi dinamika keluarga minimal hanya tiga sampai empat jam per hari?
Bersama menjunjung
Negosiasi dan dialog dalam keluarga bukanlah sebuah kegiatan teknis atau sebuah kesepakatan semata, melainkan ingin menggarisbawahi dan menjaga ruang privat dan ruang berbagi dalam keluarga. Sampai dimana batas saya sebagai suami / istri dalam relasi dengan pasangan saya. Hal-hal mana yang bisa dan boleh dibagikan, boleh diketahui, boleh diintervensi dan mana yang tidak boleh dan tidak bisa. Ruang dialog adalah dampak dari kesiapsediaan afektif masing-masing untuk saling memberi satu sama lain, atau justru merupakan ungkapan saling ketergantungan satu sama lain untuk menemukan ukuran dan patokan yang sesuai. Logika yang ditawarkan di sini adalah transformasi sikap dasar, dari peneguhan ego hanya saya saja atau hanya kami saja (mungkin juga absah-absah saja) menuju pada ketergantungan satu sama lain yang dipilih hanya karena cinta, untuk cinta dan demi cinta, dengan menghargai dan menerima kondisi pasangan apa adanya; atau, dari sikap mau mendikte pasangan, menuju memahami pasangan.

Celah yang bisa dimasuki untuk memahami dinamika dialog adalah dengan tidak menggunakan timbangan untuk mengetahui sejauh mana saya otonom (di hadapan otonomi dai pasangan) dan sejauh mana kita adalah satu pasangan bersama sebagai keluarga (dengan demikian tidak ada ruang otonom), tetapi menempatkan diri pada level yang lain, yaitu masing-masing berani mempercayakan dirinya pada orang lain. Bagaimana caranya? Pertanyaan ini mungkin bisa membantu: bagaimana saya sanggup untuk menjadi teladan bagi pasangan atau sejauh mana saya sanggup terbuka untuk mencontoh teladan pasangan dan membiarkan diri untuk dipengaruhi?

Ini bukan soal harga diri yang turun atau naik pangkat, bukan otonomi atau sikap ketergantungan berlebihan yang menginvasi pasangan, tapi menyadari sikap batin yang tersembunyi: mana yang merupakan hak milikku sebagai milikku saja di hadapan hak milikmu sehingga aku tidak bisa mengotak-atik, atau mana yang merupakan hak milik berdua sehingga masing-masing memiliki hak yang sama. Mari kita ingat bahwa milik bisa saja berupa benda, harta, status, kekuasaan, superioritas, pengalaman, waktu, pekerjaan, afeksi, sentimen (bukan sentimentalisme) dan masih ada banyak lagi. Di sini perlu diwaspadai sikap kerakusan dan ketamakan dalam kepemilikan hanya untukku. Model seperti ini cenderung untuk memiliki semua bagi dirinya sendiri, dan ketika pasangan meminta untuk menempatkan bersama apa yang dimiliki, atau paling tidak menunjukkan saja apa yang dimiliki, dia akan menyerang balik soal kepemilikan.
Kalau diperdalam, dipikir dan direnungkan, sebetulnya, bukan soal apa yang dimiliki, tetapi bagaimana sikap, perasaan dan pemikiran pada apa yang ada di tangan. Ini yang kerap menjadi sumber diskusi-diskusi dalam keluarga. Meskipun seseorang memiliki banyak hal, dia merasa miskin dan menderita seperti orang tidak punya apa-apa – atau – meskipun dia tidak punya banyak hal, tetapi menghidupi dengan penuh syukur dan berani berbagi dengan keterbatasan yang dimilikinya, dia bahagia seperti malaikat.

Inilah tantangan diskusi, yang terletak pada kerakusan dan keserakahan yang mengganjal kemampuan untuk saling mempercayakan diri pada pasangan. Sangat tipis memang sikap dasar ini. Pada intinya, risonansi afektif dari sikap ketergantungan akan membantu pasangan untuk menemukan ukuran yang tepat tentang kapan misalnya, pasangan lain memerlukan waktu untuk sendiri, untuk diam dan beristirahat serta tidak memaksanya untuk bertindak memenuhi keinginan kita atau hanya untuk menyenangkan kita saja.

Nessun commento:

Posta un commento

Lettura d'oggi

Friends