martedì 25 novembre 2014

Kiamat: Melihat awan dari atas

Apa yang anda dipikirkan tentang kiamat? Pasti gambarannya tidak bakal jauh-jauh dari berbagai macam bencana dan petaka. Yang muncul dalam pikiran adalah bagaimana lari dari bahaya untuk menyelamatkan diri atau justru sebaliknya, menunggu dengan tenang.
Film 2012 pun menggambarkan akhir dunia ini sedemikian rupa sehingga setiap manusia harus lari dan terus lari menghindarinya. Sepertinya masih ada ruang dan tempat nun jauh di sana yang bisa aman dan terbebas dari dentuman kiamat ini. Strategi untuk bertahan hidup pun mulai dicari.
Pertanyaan tentang kiamat selalu dihidupi tiap generasi. Pengalaman-pengalaman kecil dan sederhana, juga kesulitan hidup yang besar serta beban hidup yang berat..kerap membuat manusia mengalami "sepertinya dunia kiamat" itu dihidupi ketika manusia masih hidup!
Melihat awan dari atas...
menjadi sadar kalau hidup manusia itu terbatas
Setiap orang harus menghadapi akhir hidupnya masing-masing. Segala kemegahan yang telah dibangun akan ditinggalkannya. Segala kekayaan yang telah ditumpuk, akan ditinggalkannya. Segala kehormatan yang telah diraih, akan ditinggalkannya. Segala pengharapan yang disusun satu persatu dalam iman dan kasih akan Yesus Kristus, tidak akan meninggalkannya. Mengapa? Karena inilah cara manusia untuk memahami sejarah dan makna hidup. Kesusahan hidup, penyakit, kemalangan dan penderitaan yang ditanggung tanpa salib Kristus, akan sia-sia dan mencekik manusia.
Apakah dengan datangnya kiamat, seluruh kehidupan manusia menjadi sia-sia? Kitab Wahyu 14,14-19 yang kita renungkan hari ini memberikan sebuah gambaran tentang akhir zaman, seperti Injil Lukas21,5-11. Kalau dikonfrontasikan langsung nubuat ini dengan situasi dunia saat ini... memang sepertinya akhir zaman itu sudah di ambang pintu. TETAPI, jika dibaca secara keseluruhan teks ini, injil tidak menunjukkan waktu persisnya kapan. Mari menyadari bahwa bagi orang katolik, akhir zaman atau kiamat bukanlah sebuah bencana yang menakutkan, melainkan sebuah penantian yang membahagiakan. Bukankah selama ini kita berdoa: Datanglah Kerajaan-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga? Bukankah selama ini kita berdoa kepada Allah agar menciptakan damai dan menegakkan keadilan? Bukankah dalam setiap kesulitan, kita berdoa mohon penyertaan Allah. Jika semua permohonan kita itu terkabul, bukankah justru membuat kita bahagia? Janji yang diberikan oleh Yesus adalah sebuah kepastian, karena Dia sendiri sudah mengalaminya dan sudah menyediakan tempat bagi kita.
Injil tidak menggerogoti ketajaman intelektualitas manusia, tetapi menginspirasinya untuk mencintai Kebenaran, yang menuntut kesanggupan manusia untuk bertindak selaras dengan Injil dan menghidupinya dengan berani. Seseorang yang menaklukkan diri untuk membaca Injil, kehidupannya akan tertransformasi, intelektualitas imannya akan makin tajam, kejelian untuk membedakan Kebenaran dari kepalsuan dan kebenaran semu akan menjadi seperti pedang bermata dua yang amat tajam.
P. Alfonsus Widhi, sx

mercoledì 1 ottobre 2014

Paus Fransiskus: Dayunglah, hendaklah kamu kuat, bahkan dengan angin sakal!




Ini adalah renungan Bapa Paus Fransiskus bagi para Yesuit dalam perayaan vesper di Chiesa del Gesu'. Sebuah refleksi yang sangat mendalam berkaitan dengan perayaan 200 tahun pendirian kembali Serikat Yesus. Menarik bagi saya ketika membaca teks secara keseluruhan, Bapa paus mengambil inspirasi tentang: panggilan Serikat, discernment, perutusan dan pelayanan. 

Saudara-saudara dan para sahabat yang terkasih dalam Tuhan,
....
Kapel St. Fransiskus Xaverius,
dengan reliqui tangan kanannya
di Gereja del Gesu' - Roma
Dalam masa-masa sulit dan pencobaan, selalu muncul awan keragu-raguanan dan penderitaan. Tidak mudah melangkah maju untuk melanjutkan perjalanan. Ada begitu banyak godaan, terutama di masa-masa sulit dan krisis, untuk berhenti dan mendiskusikan ide-ide, membiarkan diri dikuasai oleh kesedihan, memusatkan perhatian pada kondisi yang teraniaya dan tidak melihat cakrawala yang lain. Membaca surat Rm. Ricci, saya tersentuh oleh satu hal: kemampuannya untuk tidak membiarkan diri masuk ke dalam pencobaan ini dan mengusulkan kepada para Yesuit di saat-saat yang sulit ini, suatu cakrawala pandang yang menjadikannya lebih berakar lagi dalam spiritualitas Serikat.
Romo Jendral Yesuit, Rm. Ricci, yang menulis surat kepada para Yesuit, sambil melihat awan menebal di cakrawala, meneguhkan para anggotanya dalam membangun semangat memiliki pada keanggotaan Serikat dan pada perutusannya. Begitulah dia melakukan discernment dalam situasi keragu-raguan dan kekacauan. Dia tidak membuang waktu untuk mendiskusikan ide-ide dan mengeluh, tapi bertanggung jawab atas panggilan dari Serikat. Dia harus menjaganya, dan menjaga tanggung jawab itu.

Lettura d'oggi

Friends