domenica 27 agosto 2017

Adorasi Ekaristi

Tema: Panggilan hidup

Di salah satu sudut Roma 5-9-2010
Tradisi adorasi ekaristi merupakan kelanjutan dari tuguran yang kita jalankan pada hari kamis putih. Di sini kita merenungkan due peristiwa besar antara perayaan kenangan sengsara Tuhan dan kehadirannya secara permanen di dalam hosti yang dikonsakrir. Namun, sama seperti aneka devosi lainnya, adorasi ekaristi tidak dapat dipisahkan dari hidup kita dengan sesama. Adorasi adalah suatu kebutuhan hakiki dari hati kita yang terdalam yang mencari Yang Ilahi dan Transenden. Maka, adorasi ekaristi bukan merupakan tindakan keagamaan secara pribadi untuk merasa baik, saleh dan suci, melainkan untuk menjadi semakin peka akan kehadiran Kasih dan tuntutan-Nya.
Paus Paulus VI dalam dokumen Marialis Cultus n° 46 menulis bahwa dengan melihat relasi yang erat antara Bunda Maria dan Kristus, maka mendaraskan rosari pun membantu orientasi kristologis doa-doa kita, sambil merenungkan di dalamnya misteri-misteri penjelmaan dan penebusan. Dengan demikian, berdoa kepada Yesus Kristus yang hadir di dalam Sakramen, diharapkan hati kita menjadi semakin peka dan seperasaan dengan Hati-Nya yang selalu tergerak oleh belaskasihan.
Situasi tata kehidupan di Jakarta pada millennium III ditandai dengan budaya serba cepat dan seolah tanpa batas. Kondisi ini telah berdampak serius pada kwalitas hidup beriman.

venerdì 26 agosto 2016

Generasi Digital

Terbang di atas Danau Sentani
Pemandangan yang menakjubkan dengan banyak simbol terbaca di dalamnya. Pesawat itu dengan tenang berenang-renang diantara awan-awan yang mengaburkan warnanya. Putih, biru, hijau, abu-abu yang berirama dalam keharmonisan alam. Mereka yang sudah berada di dalam pesawat itu, sudah meninggalkan masa lalunya yang tinggal kenangan. Keterpisahan dengan masa lalu merupakan peristiwa kematian yang harus dihidupi untuk bisa terbang melanjutkan kehidupan dalam episode yang lain.
Dunia teknologi, sebagaimana digambarkan dalam situs we are social. Situasi di Indonesia yang diungkapkan di slide ini membuat saya terhenyak.
Ada 259,1 juta jumlah penduduk Indonesia dengan 326,3 juta hp dimiliki di awal januari 2016.
88,1 juta adalah pengguna internet aktif.
79 juta aktif di media sosial.
Lebih kurang 20% ke atas sudah menggunakan hp untuk messenger, video, game, mobile banking dan mobile map service.
Konsentrasi infrastruktur fisik memang masih didominasi pulau Jawa yang menawarkan fasilitas sangat memadai untuk terkoneksi, bila dibandingkan dengan pulau-pulau yang lain di Indonesia. Tapi anda jangan gagal paham! Tantangan yang dihadapi di tempat terpencil pun tidak kalah hebatnya dengan di pulau Jawa. Mengapa? Di sini kita bicara tentang mentalitas, karakter, pola kehidupan, kepribadian... yang menjadi fenomen global perubahan di milenium ketiga ini yang telah menerobos segala hal yang menjadi penghalang komunikasi. Jarak, ruang dan waktu menjadi relatif. Generasi milenium III tidak takut ketika memegang sebuah gadget yang baru dan bisa mengoperasikannya dalam waktu yang singkat, sementara para orang tua takut salah menggunakan sehingga bisa rusak. Generasi ini sudah lihai dengan multi tasking, berkonsep jejaring, bermentalitas take and leave, mengadopsi fungsi-fungsi komputer dan mengintegrasikannya dalam kehidupan, baik sadar maupun tidak sadar. Banyak pengalaman berbicara tentang hal ini...
Tantangan besar di hadapi oleh para orang tua dan pendidik generasi digital immigrants. Perubahan karakter, mentalitas, pola berpikir, pola bertindak, pola merasakan sesuatu itu memiliki bentuk yang lain. Nilai-nilai dan kebutuhan-kebutuhan digital natives pun bergeser dari yang sebelumnya. Kehidupan sosial beserta karakternya, kepribadian beserta pilihan hidup generasi digital menampilkan bentuk-bentuk yang lain.
Demikian juga ketika kita mau berbicara tentang kualitas para pemimpin di masa depan. Bagaimana kalau berbicara tentang kualitas para calon imam? Saudara-saudara, 
PR besar menanti kita semua.
Rm. Alfonsus widhi, sx

Lettura d'oggi

Friends