domenica 20 maggio 2012

Hari komunikasi sosial sedunia ke-46


Hidup tua di jalanan. Barangkali ini ungkapan pas untuk mendeskripsikan situasi kita di Jakarta. Macet, macet dan macet lagi. Habis waktu di jalan dua atau tiga jam untuk perjalanan dari rumah ke tempat kerja sudah menjadi biasa. Ini tentu melelahkan dan memboroskan banyak hal.
Kompas sabtu, 19 mei 2012 (hal. 33) bicara tentang kerja virtual pada halaman kompas karier (ide yang serupa sudah muncul 23 juli 2008, rapat virtual dan cara kerja modern). Artikel ini mengusulkan sebuah metode berbeda  demi efisiensi dan efektivitas kerja, yaitu dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Bukankah sudah ada lap top, iPad, kekuatan broadband dan kemajuan perangkat lunak untuk bekerja? Bukankah sudah ada web / video conference, online document sharing, wikis dan aplikasi lain sebagai sarana untuk bekerja? Sarana teknologi ini memungkinkan transfer kerja di kantor ke rumah.
Dengan motor-motor pencari di internet, kita bisa bertanya banyak hal, menerima dan menyebarkan informasi bermacam-macam, menjalin kontak, relasi dan membuat pertemuan dan bahkan mengagendakan sebuah rapat serentak dari 5 benua dalam waktu yang sama. Sampai-sampai kitapun kebanjiran informasi (bahkan yang tidak perlu) dan mengalami kesulitan untuk memilah-milah. Dengan demikian diharapkan bahwa pekerja bisa mengatur waktu (membagi waktu antara menggarap pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor, Hemat waktu, BBM, bisa antar jemput anak ke sekolah, bisa hemat emosi karena kemacetan dst.), tidak perlu pakai seragam (cukup pakai kaos oblong, lebih produktif?)
Tawaran ini cukup menarik buat pekerja kantoran, mahasiswa maupun siapa saja yang dalam kehidupan sehari-hari memerlukan media komunikasi sebagai sarana pokok untuk bekerja. Namun masih tetap DIPERTANYAKAN dan PERLU PEMIKIRAN: Bukan hanya soal hasil yang dicapai, tapi perlu «KEKUATAN PENGUKURAN KINERJA, jaminan pembinaan, pengembangan sistem, pencanangan prioritas dan manajemen waktu dst» (Rachman, E. - Savitri, S., «kerja virtual», Kompaskarier.com, p. 33).
Berhububung hari ini adalah hari komunikasi sosial sedunia, marilah kita persempit refleksi kita dalam SPIRITUALITAS DIGITAL: melihat pengalaman pribadi kita masing-masing ditengah-tengah kehadiran teknologi, sebagai sebuah tempat untuk mengembangkan hidup rohani. Paus Benediktus XVI menyodorkan sebuah tema untuk hari ini «parola-silenzio, word-silence, sabda-keheningan».
Kata dan keheningan merupakan dua unsur dasar dalam komunikasi yang harus dijaga keseimbangannya dan diintegrasikan dengan baik untuk mencapai sebuah DIALOG YANG AUTENTIK dan MERETAS SEBUAH RELASI yang mendalam diantara pribadi. Mengabaikan dua unsur ini akan menciptakan kualitas komunikasi kurang memuaskan, terciptalah sebuah iklim yang dingin, keragu-raguan, kecurigaan atau salah pengertian; sebaliknya, jika bisa diintegrasikan dengan baik, komunikasi akan menjadi BERMAKNA DAN MEMILIKI NILAI yang berarti.
Dalam menyampaikan kata, ketika orang mulai berbagi informasi, menyampaikan pesan dan ide, dalam waktu yang sama mereka sedang membagikan juga dirinya, pandangannya tentang dunia, harapan dan impian mereka. Sikap diam bagi mereka yang menerima informasi ini merupakan kesediaan hati untuk percaya pada orang lain dan memberi kesempatan padanya untuk mengekspresikan diri dan pendapatnya. Dengan demikian terbukalah ruang tanya jawab, dialog dan komunikasi menjadi lebih manusiawi dan berkualitas. Maka bisa dikembangkan di sini relasi pribadi yang hangat dan mendalam.
Dalam keheningan, kita mendengar dan mengenal diri lebih baik. Sebuah pemikiran lahir dan diperdalam. Kebahagiaan batin, kecemasan, penderitaan dan harapan pun berbicara dan menemukan ekspresi amat tepat dan berbobot dalam ketiadaan kata-kata. Ketika kita kebanjiran informasi (dari TV, radio, phone, internet) keheningan menjadi tempat esensial untuk memilah-milah mana yang penting dan mendesak, mana yang omong kosong dan tidak perlu. Dengan demikian diharapkan kita bisa mengkonsentrasikan diri pada hal-hal yang esensial saja.
Bagaimana dengan media komunikasi modern?  Relasi dalam dunia maya itu terbatas. Berkomunikasi lewat layar itu seperti menikmati nonton wayang. Kita tidak melihat YANG REAL, melainkan BAYANGAN saja. Kita tidak menangkap secara keseluruhan pribadi manusia yang ada di depan kita, melainkan hanya bayangan, hanya sebagian saja dari seluruh kepribadiannya.
Di sini, kadang kita terjebak dengan mereduksi kekayaan sebuah pertemuan tatap muka langsung dan menyamakannya nilainya cukup dengan sms,  dengan mail atau dengan chat. Padahal, kalau memang dimungkinkan sebuah pertemuan ini, orang akan diperkaya dgn pertemuan pribadi, tahu apa yang tersirat dibalik ungkapan sebuah kata. Dialog ini memberi peluang orang untuk melihat diri dan membuka diri pada sebuah peziarahan batin.
KEHENINGAN pun berbicara. Allah sendiri mewahyukan dirinya JUGA dalam keheningan. Dalam kisah penciptaan manusia kedua (bdk. Kej 2,21), dalam keheningan setelah badai (bdk. Mat 14,22-33), dalam kesunyian dan kegelapan di atas salib Kristus (bdk. Mat 27,45-54), Allah berbicara lewat kebisuan, keheningan, tidak ada kata-kata. Jika Allah pun berbicara dengan manusia lewat kebisuan, manusiapun bisa menyingkap bahwa dalam ketiadaan kata-kata-pun, ada kemungkinan berbicara TENTANG Tuhan dan DENGAN Tuhan. Kita masing-masing memerlukan keheningan itu, yang akan menuntun kita pada kontemplasi dan akan mengantar kita masuk ke dalam keheningan Allah.
Semoga, dalam hiruk pikuk keramaian media komunikasi yg kita miliki untuk hiburan, musik, film, mencari  berita, bekerja… kita pun bisa menemukan sebuah ruang batin yang sejuk, yang menciptakan atmosfer doa, refleksi, meditasi dan berbagi pengalaman iman.
Semoga, di dalam keheningan, tanpa kata, kita bisa mengkomunikasikan diri kita dgn sesama dan dgn Allah. Dgn demikian, semoga terpenuhi 3 permohonan Kristus dalam Injil hari ini (Yoh 17,11-19): 1) kita pun bisa tetap tinggal bersama Allah, 2) membiarkan diri dijaga oleh-Nya dari YANG JAHAT (menjadi anak-anak dunia ≈ hidup tanpa Allah yang maha kasih dan tanpa kehidupan), 3)
agar kita dikuduskan (Edith stein: tanpa kehidupan berahmat, tidak ada Gereja), KARENA Yesus meminta kepada Bapa, agar MENGUDUSKAN anak-anakNyaya dalam Kebenaran, karena mereka dan kita mengemban tugas membawa Sabda kepada dunia, seperti Yesus sendiri.

Bibliografi:
Rachman, E. - Savitri, S., «Kerja virtual», Kompaskarier.com, 19 mei 2012, p. 33

p. alfonsus widhi sx
wisma xaverian bintaro

Nessun commento:

Posta un commento

Lettura d'oggi

Friends