sabato 24 maggio 2014

Manusia adalah mahluk yang tak cukup diri

Sebuah perkampungan di Thailand
Barangkali inilah yang menjadi alasan mengapa ada system kehidupan bersama dalam sebuah masyarakat. Sebuah system yang mengatur kebijakan tentang apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang baik dan tidak baik untuk dilakukan. Kehendak untuk berbagi kerap mengiringi sebuah system kehidupan bersama. Dalam sebuah tatanan yang sehat, tema pokok yang kerap dibagikan berkaitan dengan kebenaran, kebaikan dan keindahan. Dengan merujuk pada ketiga aspek ini, maka beberapa orang berkumpul bersama dan berupaya menjaga dinamika kestabilan kehidupan mereka.
Tidak jarang pula ditemui di sekitar kita sebuah tatanan yang berpikir autarki, karena mengandaikan bahwa masing-masing orang memiliki permasalahannya sendiri-sendiri, masing-masing sanggup memenuhi kebutuhan dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan berbagai kemajuan teknologi saat ini, pola pikir demikian bisa makin disuburkan dan bisa juga makin dimiskinkan.
Ketika manusia sudah menemukan daerah nyaman di jejak kehidupannya karena memiliki rumah beserta dengan segala isinya tempatnya berlindung, pekerjaan sebagai sarana mengaktualisasikan diri, status sosial sebagai jalan untuk menempatkan diri dalam tatanan masyarakat dan harta yang menjadi bukti kesuksesan hidupnya, bisa jadi manusia seperti terbentuk menjadi individu autarkis. Segala sesuatu tercukupi, untuk apa bersosialisasi?
Realitas bisa berbalik ketika manusia seperti ini mulai satu persatu kehilangan segala apa yang dimilikinya dan tidak bisa mengontrolnya, bahkan kesehatannya sendiri. Perlahan dia akan melongok ke jendela dan menyadari bahwa di luar batas pagar rumahnya itu ada yang namanya tetangga, sesama.
Ketika manusia ini menyadari bahwa segala talentanya harus dibagi dan segala kerapuhannya itu harus ditopang oleh orang lain, manusia yang lain bisa berharap bahwa mereka yang kerap nyaman dengan dirinya dan seolah-olah tidak membutuhkan orang lain pun mau melangkah keluar dari pagar, menyapa dan berbagi kehidupan. Sebelumnya sih sudah ada, tetapi karena dunia cukup diri yang dibangunnya, maka yang ada di sekitar itu terbendung sehingga tidak masuk dalam kesadaran jatidirinya.
Padahal, untuk memenuhi kebutuhan survival dan realisasi diri, tak ada manusia yang bisa melakukan segala-galanya sendiri. Ketika dia lahir, dia membutuhkan bantuan orang lain untuk keluar dari rahim ibunya; dan ketika dia meninggal, dia pun membutuhkan bantuan sesamanya untuk bisa dimasukkan ke rahim ibu pertiwi. Manusia selalu membutuhkan orang lain, termasuk dalam berbagi penderitaan. Maka, konsep individu selalu mengandaikan pengakuan dari orang lain.
Perkumpulan individu-individu dalam membentuk sebuah komunitas, sebuah kampoeng maupun dalam lingkup lebih luas yaitu sebuah tatanan hidup bernegara, hendak menggarisbawahi bahwa manusia tidak mampu mencukupi dirinya sendiri. Adanya negara itulah yang merupakan legitimasi dari situasi konkrit kehidupan manusia.
Perekat relasi di dalam komunitas kampoeng maupun bernegara bisa berupa keserupaan dalam mengejar kebenaran sejati, kebaikan yang tulus dan keindahan yang memikat. Tentu saja untuk mencapai kesepahaman dalam ketiga agenda ini, tidak mudah mempersatukan kemajemukan yang menyusun sebuah tatanan. Aristoteles berpendapat bahwa rumah lebih autarkis daripada manusia. Negara lebih autarkis daripada rumah dan hal ini terjadi ketika individu-individu menjadi autarki; merasa cukup diri secara ekonomi dan mandiri bisa mengatur dirinya sendiri. Bukankah manusia menurut kodratnya adalah mahluk yang membentuk negara? Jika tidak, maka menurut Aristoteles, dia adalah seorang dewa yang dengan kemahakuasaannya tidak membutuhkan orang lain atau orang liar di luar konsorsium manusiawi. Maka negara menurut kodratnya adalah sebuah kemajemukan karena faktor penyusunnya sangat beragam.
Majemuk berarti terdiri dari banyak orang dan berbeda-beda. Tidak ada kesamaan yang tidak memiliki perbedaan sedikitpun. Maka, negara tidak dapat terdiri dari orang-orang yang sama sekali dan mutlak sama. Berbeda itu sebuah realitas. Keberbedaan, saling membutuhkan dan non autarkis ini memerlukan komunikasi untuk saling menyatakan diri atau merealisasikan diri. Tidak mungkin satu perbedaan menihilkan perbedaan yang lain dan memaksakan diri untuk menjadi model tunggal yang harus ditiru oleh yang lain. Bagaimana mungkin sebuah gaya hidup di Indonesia harus diterapkan dengan cara yang sama di Eropa, bahan makanan di pantai harus diterapkan sebagai model tunggal makanan yang sehat dan bergizi di pegunungan, atau system pemerintahan di Jawa diterapkan sebagai model pemerintahan paling baik di dunia dan harus diterapkan bagi semua Negara sebagai model terbaik memerintah sebuah tatanan social? Tidak mungkin!  Maka, komunikasi antar zoon politikon, mahluk politiknya filsuf Aristoteles, dipahami sebagai proses penyingkapan individu-individu yang berbeda-beda.
Sebuah contoh: dalam tradisi kehidupan monastik, seorang pemimpin rahib dipilih bukan berdasarkan pada talentanya, hartanya, ototnya atau kemurahan hatinya, tetapi karena karisma yang dimilikinya atau karena penempatan oleh pimpinan yang lebih tinggi. Konsep partisipasi setiap rahib dalam menentukan pemimpin inilah yang menjadi dasar demokrasi. Dalam hal ini, model serangan fajar, kampanye hitam dan tipu daya memiliki ruang gerak kecil sekali karena setiap anggota biara memiliki hak dan kewajiban yang sama. Meskipun setiap rahib memiliki keberbedaan, namun semuanya sama kedudukannya di hadapan Allah, di dalam hukum dan tatanan hidup membiara.
Dalam proses politik, keanekaragaman dan keberbedaan ini disatukan dalam konsep warga negara. Jika politik dipahami sebagai komunikasi, maka politik adalah partisipasi warga negara / publik dalam pengambilan putusan-putusan publik. Maka, dalam pengambilan keputusan publik, masing-masing warga negara memiliki hak dan partisipasi yang sama di dalamnya.
Kalau masyarakat hendak menerima pluralitas, ini mengandaikan bahwa masyarakat adalah individu yang tidak cukup diri (dimensi anthropos) dan komunikasi mengandaikan pluralitas (dimensi sosiologis). Menurut Aristoteles, kehidupan sosial politik adalah tanda bahwa manusia tidak bisa sendiri. Kant menambahkan, bahwa dalam keadaan bersama orang lain, manusia cenderung menarik diri. Ada tegangan antar individu dan komunitas, karena tanda kedewasaan dalam berkomunitas adalah tahu batas.
Semoga, dengan menimba semangat dari ekaristi yang kita sambut setiap hari minggu, kita makin menyadari identitas kita sebagai warga negara, yang dalam kemajemukan jatidiri kita itu menyusun sebuah tatanan masyarakat dalam kemajemukannya.
P. Alfonsus Widhi, sx

Nessun commento:

Posta un commento

Lettura d'oggi

Friends