domenica 19 febbraio 2012

Pesan Prapaskah 2012 Paus Benediktus XVI


Marilah kita saling memperhatikan satu sama lain 
agar saling menopang dalam cintakasih 
dan dalam pekerjaan yang baik (Ibr 10,24)

Foto: M Frasinetti
Saudara/i terkasih,
Masa prapaska menawarkan kepada kita sekali lagi sebuah kesempatan untuk merenungkan inti hidup kristiani: cinta kasih. Ini adalah waktu yang sangat pas agar dengan bantuan Sabda Allah dan sakramen-sakramen, kita dapat membarui peziarahan iman kita, baik peziarahan personal dan komuniter. Bisa dikatakan bahwa ini adalah sebuah perjalanan yang ditandai dengan doa dan sharing, dengan keheningan dan matiraga dalam penantian untuk menghidupi kebahagiaan paskah.
Tahun ini saya berkehendak membagikan beberapa renungan yang bertitik tolak dari surat kepada umat ibrani: «Marilah kita saling memperhatikan satu sama lain agar saling menopang dalam cintakasih dan dalam pekerjaan yang baik (Ibr 10,24)». Kalimat ini merupakan sebuah bagian yang diselipkan dalam sebuah perikop dimana penulis teks ibrani menganjurkan kepercayaan tulus kepada Yesus Kristus sebagai imam agung, yang telah menganugerahkan kepada kita pengampunan dan jalan terbuka kepada Allah. Hidup Kristus merupakan sebuah rangkuman dari tiga keutamaan teologis, yaitu: mendekatkan diri pada Allah  «dengan hati tulus dalam iman yang teguh (ay. 22)», dengan memegang teguh «keyakinan tentang pengharapan kita (ay.23)» dengan perhatian yang terus menerus untuk melayani saudara-saudari kita dalam «cinta kasih dan pekerjaan-pekerjaan yang baik» (ay.24). Ditegaskan pula bahwa untuk menopang gaya hidup injili ini, hendaknya digarisbawahi keikutsertaan pada perayaan liturgis dan doa-doa yang diadakan dalam komunitas, sambil memiliki cakrawala tujuan eskatologis: persatuan yang penuh di dalam Allah (ay. 25). Berhenti sejenak pada ayat 24, ayat ini menawarkan sebuah pengajaran amat berharga dan selalu aktual berkaitan dengan tiga aspek hidup kristiani: perhatian pada orang lain, relasi timbal balik dan kekudusan pribadi.

1. “Marilah kita saling memperhatikan”: unsur tanggung jawab terhadap saudara kita.
Unsur pertama adalah sebuah undangan untuk «memberikan perhatian». Kata kerja yang dipakai dalam bahasa yunani adalah: «katanoein», yang berarti: melihat dengan seksama, memandang dengan penuh makna, peka akan situasi yang terjadi. Ini semua bisa kita temui dalam injil, ketika Yesus mengundang para muridnya untuk «mengamat-amati» burung-burung di udara, yang meskipun tanpa bersusah payah bekerja, mereka dirawat dan berada di bawah Penyelenggaraan Ilahi (bdk. Lk 12,24) dan menjadi «sadar diri» akan balok yang berada di kelopak mata sendiri sebelum melihat setitik debu di mata saudara yang lain (bdk. Lk 6,41). Kita temukan juga dalam bagiak yang lain di surat Ibrani, seperti undangan untuk «memberikan perhatian kepada Yesus» (3,1), rasul dan imam agung iman kita. Dengan demikian, sabda yang membuka anjuran kami, mengundang untuk memusatkan perhatian kepada pihak lain, terutama kepada Yesus Kristus, kemudian menjadi peka satu sama lain, tidak menjadi asing bagi mereka dan tidak acuh tak acuh pada nasib yang menimpa mereka. Hal yang sebaliknya justru sering terjadi dimana lebih unggul sikap acuh tak acuh dan tidak peduli, yang menyembunyikan egoisme terlapis dengan sikap menghargai yang semu demi alasan ruang privat. Juga saat ini bergaung dengan kuat suara Allah yang memanggil kita satu per satu untuk saling menjaga orang lain. Demikian juga saat ini, Allah meminta  kita untuk menjadi «penjaga» saudara/i kita (bdk. Kej 4,9), untuk menjalin hubungan yang ditandai dengan perhatian timbal balik dan menjadi peka demi kebaikan sesama seutuhnya.
Perintah cinta kasih yang utama terhadap sesama mendesak dan menggugah kesadaran akan tanggung jawab terhadap sesama, yang seperti saya, adalah mahluk ciptaan dan anak-anak Allah. Kita semua adalah saudara dan dalam berbagai hal, juga dalam iman, hendaknya membimbing kita untuk melihat sesama sebagai «aku yang lain», yang dikasihi dengan cinta kasih tak terbatas dari Allah. Jika kita pupuk cara pandang persaudaraan semacam ini, maka solidaritas, keadilan dan juga belas kasih akan memancar dari dalam hati kita. Hamba Allah Paus Paulus VI menegaskan bahwa penyebab penderitaan dunia saat ini adalah kemiskinan rasa persaudaraan: «Dunia sedang sakit. Penyakit ini lebih disebabkan karena miskinnya rasa persaudaraan di antara sesama dan di antara bangsa-bangsa dari pada di dalam pemborosan atau spekulasi sumber daya yang mereka miliki oleh pihak lain» (bdk. Enc. Populorum progressio, 26 maret 1967, n°. 66)
Kepekaan kepada sesama menekankan sebuah kebaikan baginya dalam segala sudut pandang baik fisik, moral dan spiritual. Kebudayaan di zaman ini nampaknya memudarkan rasa akan sesuatu yang baik dan yang jahat, sementara di lain sisi, perlu menegaskan bahwa kebaikan itu ada dan menang atas kejahatan, karena Allah adalah baik dan melakukan hal yang baik (Mzm 119,68). Kebaikan inilah yang membangkitkan, melindungi dan menjadi motor penggerak kehidupan, persaudaraan dan persatuan. Dengan demikian, rasa tanggung jawab terhadap sesama memiliki makna mewujudnyatakan kehendak dan tindakan demi kebaikan orang lain, sambil mengharapkan bahwa dia membuka diri pada logika kebaikan. Menjadi peka terhadap saudara berarti membuka mata akan kebutuhan-kebutuhannya. Kitab suci mengingatkan bahaya memiliki sebuah hati yang dikeraskan dari sejenis «anestesi rohani» yang menuntun orang menjadi buta akan penderitaan sesama. Penginjil Lukas membawa dua contoh parabola dari Yesus dimana digarisbawahi di dalamnya situasi ini yang bisa tercipta dalam hati orang.
Dalam kisah orang samaritana yang baik, imam dan orang levi melewati orang yang membutuhkan pertolongan itu dengan sikap cuek (bdk. Lk 10,30-32) dan dalam kisah orang kaya dan lazarus, orang yang kenyang dengan harta duniavi ini tidak mampu melihat kondisi orang miskin (lazarus) yang sedang mati kelaparan di depan rumahnya (Lk 16,19). Dalam kedua contoh tersebut, kita punya contoh hal-hal yang bertentangan dengan «memberikan perhatian», memandang dengan cinta kasih dan dengan keterbukaan hati. Apa yang sebenarnya menghalangi tatapan manusiawi dan bernuansa cinta kasih terhadap sesama? Sering jawaban yang muncul adalah kekayaan materiil, kepuasan jasmani dan juga mengedepankan interes dan kesibukan masing-masing. Marilah kita menghindari acuh tak acuh dan ketidakmampuan untuk berbelas kasih terhadap mereka yang berpenderitaan. Marilah kita mengelakkan hati kita termakan oleh diri kita sendiri dan oleh permasalahan pribadi, yang menjadikan kita tuli akan teriakan orang miskin. Justru kerendahan hati dan pengalaman pribadi dalam penderitaanlah yang mampu menggugah kebangkitan dari dalam untuk ber-welas asih dan ber-empati: «orang benar mengenal hak kaum papa, sebaliknya, orang tidak benar tidak sanggup memahami alasannya» (Keb 29,7). Demikianlah jalan memahami sabda bahagia dari «mereka yang bermandikan airmata» (Mat 5,4), yaitu bagi mereka yang sanggup keluar dari dirinya sendiri untuk berbela rasa dengan penderitaan orang lain. Pertemuan dengan orang lain dan keterbukaan hati akan kebutuhan mereka merupakan aktualisasi sabda bahagia dan keselamatan.  
Memberikan perhatian kepada sesama mencakup juga merawat kondisi rohani pribadi dengan baik. Di sinilah saya berkehendak mengingatkan kembali satu aspek hidup kristiani yang menurut saya mulai memudar cahayanya: koreksi fraterna yang berorientasi pada keselamatan kekal. Gambaran umum saat ini, makin orang menjadi sensitif akan pembicaraan berkaitan dengan soal perawatan kesehatan badan serta penyembuhan dari berbagai macam penyakit, sebaliknya, hampir tidak dibicarakan sama sekali kepekaan akan dengan tanggung jawab terhadap kondisi hidup rohani dari sesama kita. Dalam gereja purba dan dalam komunitas yang benar-benar dewasa dalam iman, mereka memiliki gaya hidup seimbang untuk peka terhadap kondisi fisik dan hidup rohani sesamanya. Seperti ada tertulis dalam Kitab Suci «Nasehatilah orang bijak maka dia akan berterimaksih kepadamu. Berilah saran pada orang bijak, dan dia akan berkembang dalam pengetahuan» (Keb 9,8s). Kristus sendiri bermaklumat agar kita memperhatikan saudara kita yang sedang berbuat dosa (bdk. Mat 18,15). Kata kerja yang dipakai untuk mendefinisikan koreksi persaudaraan (elenchein) adalah sesama, yang merujuk pada karya misi kenabian yang mengkoreksi dari dalam umat kristiani yang sedang jatuh dalam kejahatan (bdk. Ef 5,11). Tradisi gereja memaktubkan dalam salah satu karya cinta kasih, yaitu memperingatkan para pendosa. Menjadi penting dan berarti saat ini menghidupkan kembali dimensi cinta kasih kristiani dalam tindakan ini. Tidak boleh kita berdiam diri di hadapan kejahatan yang merajalela. Saya mengacu juga pada sikap-sikap umat kristiani yang, dengan alasan menghargai sesama atau demi kenyamanan bersama, lebih cenderung untuk menyesuaikan diri dengan mentalitas yang sedang menjadi moda, daripada menjaga sesama dari berbagai macam cara berpikir dan bertindak yang bertentangan dengan kebenaran dan tidak mengikuti jalan kebenaran itu sendiri. Sebuah teguran yang bernuansa kristiani tidak pernah dijiwai oleh semangat menghukum dan sikap menggerutu, melainkan digerakkan oleh cinta kasih dan welas asih yang memancar dari rasa sehati dan sejiwa demi kebaikan sesama. Rasul Paulus meneguhkan bahwa «jika seseorang terdapat berbuat kesalahan, koreksilah dia oleh kamu dengan jiwa yang lemah lembut. Dan kamu sendiri, berjaga-jagalah agar tidak jatuh ke dalam pencobaan» (Gal 6,1). Dalam dunia kita yang sudah tercemar oleh semangat individualisme, perlu kita menguak pentingnya koreksi fraterna, untuk dapat berjalan bersama menuju kekudusan, meskipun «orang benar jatuh tujuh kali» (Keb 24,16) dan kita semua adalah orang lemah dan tidak sempurna (bdk. 1Yoh 1,8). Dengan demikian, menolong sesama dan membiarkan diri ditolong oleh sesama untuk membaca diri sendiri dengan benar, untuk memperbaiki kualitas hidup dan berjalan lebih dinamis di dalam jalan Allah. Kita membutuhkan selalu sebuah tatapan yang penuh kasih, yang mencinta dan mengoreksi, yang mengenal dan mengakui keberadaan kita, yang memilah-milah dan mengampuni (bdk. Lk 22,61), sebagaimana Allah telah lakukan dan terus melakukannya kepada kita masing-masing.

2. “Satu sama lain”: sebuah pemberian timbal balik 
Sikap saling menjaga satu sama lain seperti ini bertentangan dengan mentalitas yang mereduksi kehidupan dalam dimensi duniawi saja, dan tidak memperhitungkan cakrawala eskatologis dan menerima pilihan moral apapun demi kebebasan individu. Sebuah masyarakat yang seperti ini dapat menjadi tuli terhadap penderitaan fisik, terhadap kebutuhan rohani dan kebutuhan moral dalam kehidupan. Komunitas kristiani tidak berwajah demikian! Rasul Paulus mengundang kita untuk mencari apa yang membawa «pada kedamaian dan saling mempererat pembangunan yang bertimbal balik» (Rm 14,19), sembari berbahagia pada «orang lain dalam kebaikan, untuk membangunnya» (ibid. 15,2), tanpa mencari kepentingan pribadi  «tapi kepentingan dari banyak orang, agar tibalah mereka pada keselamatan» (1Kor 10,33). Sikap saling mengkoreksi dan menasehati semacam ini, yang dijiwai oleh kerendahan hati dan cinta kasih, hendaknya menjadi bagian sentral dalam hidup komunitas umat beriman.
Para murid Tuhan, bersatu dalam Kristus melalui ekaristi, hidup di  dalam persatuan yang mengikta mereka satu sama lain sebagai anggota dari satu tubuh yang sama. Ini berarti bahwa saya menjadi milik orang lain, kehidupannya, keselamatannya merujuk pada kehidupan saya dan keselamatan saya. Di sinilah kita menyentuh aspek yang sangat mendalam dalam kesatuan kehidupan: keberadaan kita itu terkait dengan keberadaan orang lain, baik dalam kebaikan maupun kejahatan; baik dosa, maupun karya kasih, kedua-duanya memiliki dimensi sosial. Dalam Gereja, tubuh mistik Kristus dikenali akibat timbal balik dari hubungan ini: komunitas kristiani hendaknya tidak berhenti melakukan pertobatan dan meminta selalu pengampunan bagi dosa-dosa yang diperbuat oleh  anak-anaknya, dan terus menerus berbahagia juga atas kesaksian-kesaksian dalam keutamaan dan dalam cinta kasih yang telah ditunjukkan pula oleh tidak sebagian kecil dari anak-anak mereka. «Masing-masing anggota hendaknya saling menjaga satu sama lain» (1Kor 12,25), demikian Santo Paulus menggarisbawahi, karena kita adalah bagian dari satu tubuh yang sama. Cinta kasih terhadap sesama, yang teraktualisasi dalam pemberian sedekah ,– satu tindakan kasih khas prapaska bersama dengan doa dan puasa –, berakar dalam kesatuan yang bercorak saling memiliki ini. Demikian juga dalam perhatian konkrit terhadap yang paling miskin, setiap orang kristiani dapat mengaktualisasikan perhatian ini dalam satu tubuh yang sama, yaitu Gereja. Perhatian terhadap orang lain di dalam ketimbalbalikan adalah sebuah pengakuan akan kebaikan, yang Allah sendiri selenggarakan di dalamnya, dan berterimakasih bersama-sama dengan mereka, untuk keajaiban kasih karunia, yang Allah maha baik dan maha kuasa terus langsungkan di dalam anak-anak-Nya. Ketika seorang kristiani menyadari bahwa di dalam sesama bekerja Roh Kudus, dia, tidak dapat tidak, bergembira dan memuliakan Allah Bapa di surga (bdk. Mt 5,16).

3. “Saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan yang baik”: berjalan bersama dalam kekudusan.
Ungkapan ini lahir dari surat kepada orang ibrani (10,24) dan mendesak kita untuk mempertimbangkan panggilan universal kepada kekudusan, sebuah perjalanan terus menerus dalam kehidupan rohani,  mencita-citakan karisma yang lebih tinggi dan cinta kasih yang selalu lebih tinggi dan lebih subur (bdk. 1Cor 12,31-13,13). Perhatian timbal balik bertujuan saling memacu pada cinta kasih yang makin lebih efektif, «seperti cahaya fajar yang makin meningkat kecerahannya sampai tengah hari» (Keb 4,18), dalam penantian untuk menghidupi hari tanpa tenggelamnya matahari, di dalam Tuhan. Waktu yang diberikan kepada kehidupan kita adalah berharga untuk digali dan dipenuhi dengan tindakan baik di dalam kasih Allah. Demikianlah Gereja sendiri berkembang dan terus mengembangkannya untuk tiba pada kepenuhan kedewasaan di dalam Kristus (bdk. Ef 4,13). Di dalam cakrawala ini, yaitu di dalam dinamika pertumbuhan, teralokasilah nasihat-nasihat kami yang mendukung ketimbalbalikan dalam peziarahan untuk tiba pada kepenuhan cinta kasih dan pekerjaan-pekerjaan baik.
Sayang sekali, selalu hadir pencobaan apatis, pencobaan yang menggerahkan Roh Kudus, penolakan terhadap bakat, yang dianugerahkan untuk kebaikan kita dan sesama (bdk. Mt 25,25ss). Kita semua menerima kekayaan rohani dan jasmani, yang berguna untuk memenuhi rencana dan kehendak Allah, demi kebaikan Gereja dan keselamatan pribadi (bdk. Lk 12,21b; 1Tm 6,18). Para guru rohani mengingatkan bahwa dalam kehidupan iman, siapa yang tidak maju dan berkembang, dia akan mundur. Saudara/i terkasih, marilah kita sambut undangan yang selalu aktual untuk mengarahkan diri pada «kualitas yang tinggi kehidupan kristiani» (Yohanes Paulus II, Let. Ap. Novo millennio ineutente [6 januari 2001] § 31). Kebijakan Gereja untuk mengakui keberadaan dan mewartakan sabda bahagia dan kekudusan dari beberapa orang kristiani yang patut menjadi telata, memiliki maksud untuk membangkitkan kehendak untuk mengikuti jejak-jejak keutamaannya. Santo Paulus menasehati «berlomba-lombalah dalam menghargai satu sama lain» (Rm 12,10).
Di hadapan dunia yang mendesak sebuah kesaksian yang diperbarui oleh cinta kasih dan kesetiaan kepada Allah, semua umat kristiani merasakan pentingnya upaya untuk saling berlomba dalam cinta kasih, dalam pelayanan dan dalam perbuatan yang baik (bdk. Ibr 6,10). Seruan ini menjadi amat kuat terlebih dalam waktu kudus untuk mempersiapkan paskah. Teriring dengan ucapan selamat prapaskah, semoga kudus dan berbuah, saya mempercayakan pada perantaraan Bunda Maria dan dari dalam hati saya memberkati kalian semua dengan Berkat Apostolik.

Vatikan, 3 november 2011,
Paus Benediktus XVI

alih bahasa: p. alfonsus widhi sx

Lettura d'oggi

Friends