martedì 27 agosto 2013

Penyegaran Iman Katolik PIKAT IV 2013

Buku Kehidupan Kristus dan Legenda Orang Kudus
yang dibaca St. Ignasius dari Loyola selama masa sakitnya.
Program untuk Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta (ARDAS – KAJ) akan dijabarkan dalam 4 pertemuan. Ini berkaitan dengan implementasi di paroki, terutama untuk mengembangkan lingkungan. Maka, skema yang diusulkan akan sangat praktis karena berangkat dari pengalaman mas Felix dari keuskupan, yang akan bercerita juga tentang situasi di paroki-paroki KAJ secara umum, dan Rm. Natalis, karena pengalamannya di Cikarang dan di Kota Bumi.
Program Credo akan dijabarkan dalam 8 pertemuan: sejarah rumusan Credo, 7 konsili ekumenis pertama, spiritualitas inkarnatoris, gereja sebagai karya allah, 4 dogma tentang maria, menghidupi misteri trinitas, surga neraka api penyucian dan fenomen-fenomen mistik dan eksorsisme di dalam ajaran Gereja. Penjabaran ini terbatas. Karena apa? Tujuan pertama adalah menjawab evaluasi yang disampaikan dan ditulis oleh para peserta dalam PIKAT yang diselenggarakan tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, apa saja dogma tentang Maria? Mengapa ada banyak aliran dan kelompok gereja-gereja yang beriman sama kepada Yesus Kristus? Bagaimana kita menjelaskan tentang “Allah menciptakan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan?” Dan masih banyak lagi pertanyaan yang akan dibahas dan dijawab pada pertemuan-pertemuan kali ini.
Program pendalaman Credo ini akan diawali dengan 2 pendalaman Kitab Suci, berupa proses kelahiran Kitab Suci dan model tafsir Kitab Suci. Kitab Suci merupakan salah satu sumber iman kita. Oleh sebab itu kita pun diajak  untuk membacanya. Namun kita ingat, bahwa Kitab Suci itu lahir tidak sekali jadi melainkan memakan kurun waktu kurang lebih seribu tahun! Oleh sebab itu, ada banyak metode membaca dan menafsir Kitab Suci. Pada kesempatan kali ini, akan dipelajari sebuah metode sederhana bagi umat, meskipun tidak mengenyam pendidikan khusus teologi, agar bisa membaca dan memahami makna yang tersirat, seturut dengan situasi dan konteks yang sedang dihidupi.
Program Sakramen menekankan tentang aspek persekutuan dengan Allah dan sesama, lalu bagaimana persekutuan ini bisa dihayati dan dihidupi di dalam kehidupan sehari-hari. Maka, 5 tema yang diusulkan adalah aspek sosial dari sakramen ekaristi, sakramen perkawinan dari sudut pandang Gereja, seputar kerasulan keluarga di KAJ, spiritualitas penderitaan (berkaitan dengan sakramen tobat dan perminyakan) dan peran keluarga di dalam panggilan (ini berkaitan dengan sakramen imamat khususnya, dan panggilan umum di dalam Gereja). Dengan kursus-kursus ini, diharapkan agar perayaan iman yang kita jalankan bersama dengan komunitas di paroki atau di lingkungan, dapat membuahkan hasilnya di dalam kehidupan sehari-hari.
Program PIKAT dalam sektor Beriman kontekstual terdiri dari 4 pertemuan. Tema-tema ini menyangkut spiritualitas awam, Discernment karisma pada berbagai gerakan / organisasi bernuansa katolik (menjabarkan tentang kriteria-kriteria yang dipakai Gereja untuk memberi penilaian tentang kesehatan gerakan-gerakan ini), bentuk-bentuk hidup kristiani, spiritualitas jejaring sosial (berbicara tentang facebook, twitter, you tube dst. bagaimana itu dievaluasi dan disikapi dari sudut pandang Gereja). Beriman di millenium ketiga memiliki tantangan dan metode yang berbeda dengan beriman pada zaman Yesus Kristus. Iman kita tetap sama, namun konteks zaman berubah dan ini membutuhkan strategi yang berbeda. 
Bagi yang berminat mengikuti kegiatan ini, silahkan menghubungi Paroki St. Matius Penginjil - Bintaro (021) 735.8123 atau (021) 7388.2716, bagian pendaftaran PIKAT.
 

 

 
1.    3 Sept: ARDAS KAJ: Implementasi di Paroki – lingkungan (Bp. Felix)
2.    6 Sept: Proses kelahiran Kitab Suci (P. Purnomo, ofm )
3.    10 Sept: Sejarah Rumusan Credo (P. Eddy, ofm)
4.    13 Sept: 7 Konsili ekumenis pertama (P. Eddy, ofm)
5.    17 Sept: Pengembangan lingkungan (P. Natalis, Pr)
6.    24 Sept: ARDAS KAJ: kaderisasi dan pendampingan pelayan pastoral-leadership (P. Natalis.Pr)
7.    27 Sept: Spiritualitas inkarnatoris: Allah menyelamatkan kita melalui Yesus Kristus (P. Memo, sx)
8.    1 Okt: Peran keluarga dalam panggilan (P. Lukas, osc)
9.    4 Okt: Spiritualitas jejaring sosial (P. Alfons, sx)
10. 8 okt: Bentuk-bentuk hidup kristiani (P. Gerris, sx)
11. 11 Okt: Gereja sebagai karya Allah: Satu, Kudus, Katolik, Apostolik (P. Gerris, sx)
12. 18 Okt: Dogma-dogma tentang Maria (P. Riki, Pr)
13.  22 Okt: Discernment Karisma pada kelompok-kelompok bernuansa katolik (P. Alfons, sx)
14. 25 Okt: Spiritualitas awam (P. Yus noron, Pr)
15. 29 Okt: Surga, Neraka, Api penyucian dan Persekutuan para kudus (P. Purnomo, ofm)
16. 1 Nov: Situasi Kerasulan keluarga di KAJ (P. Erwin, msf)
17. 8 Nov: Model tafsir Kitab Suci (P. Ruby, sx)
18. 12 Nov: Aspek sosial dari Sakr. Ekaristi (P. Adi, osc)*
19. 15 Nov: Sakramen persekutuan: Imamat dan Perkawinan (P. Purbo, pr)
20. 19 Nov: Fenomen-fenomen mistik dan eksorsisme di dalam Gereja (P. Alfons, sx)
21. 22 Nov: Sakr. Tobat dan Perminyakan: Spiritualitas penderitaan (P. Daniele, sx)
22. 26 Nov: Menghidupi misteri trinitas (P. Narko, ofm)
23. 29 Nov: Pastoral kontekstual dan berbasis data di lingkungan (Bp. Felix)
 nb. tanda (*) masih dalam konfirmasi

Jakarta, 27 Agustus 2013
Peringatan St. Monika
by. p. Alfonsus Widhi sx
 

 

domenica 7 luglio 2013

Pengalaman

Venezia


Apakah yang kita pikirkan bila mendengar kata pengalaman?
Seringkali, kita merasa kalau waktu terus berlalu dengan cepat. Berbagai hal terjadi, namun kita tidak bisa menikmatinya secara penuh. Seolah segalanya berlalu begitu saja tanpa kita menyadari, seperti ketika kita naik boot dan berkeliling di kota Venezia.
Orang-orang pada abad ini lebih cenderung untuk mengatakan pengalaman sebagai sebuah kesadaran psikologis tentang keadaan di dalam diri seseorang, situasi afektif dan emosinya. Maka, aspek kesadaran inilah yang memegang prioritas dari pada sebuah kehadiran efektif di suatu tempat.
Tentu ini sebuah pergeseran pemahaman dibandingkan dengan makna pengalaman di abad lalu. Pada abad XX, istilah pengalaman cenderung dimaknai sebagai sebuah kehadiran langsung dan real yang tampak di depan kita. Nilai langsung dan real menyangkut keterlibatan dari panca indera kita dalam menyentuh, merasa, membaui, mendengar dan melihat.  Keterlibatan ini hendak menyatakan bahwa kehadiran seluruh jati diri manusia pada waktu dan ruang tertentu menunjuk pada keterlibatannya dalam mengalami sesuatu.
Jika saya bertanya, apakah kamu sudah pernah makan tahu dan tempe? Orang abad XX akan menjawab secara positif ketika dia sudah makan, entah waktu makan itu pemikirannya ada di situ atau tidak. Entah ketika dia makan, dia asyik ngobrol dengan temannya atau pusing dengan permasalahan yang dihadapinya, sehingga ketika makan selesai dia tiba-tiba menyadari bahwa tempe dan tahu sudah habis. Dalam koridor ini, jika orang tidak menyadari kalau sedang makan tahu tempe, tidak ada keterlibatan afektif dengan tahu dan tempe yang sedang dimakan, orang-orang abad XXI agak meragukan kalau dia sudah secara terminologis, pernah mengalami makan tahu dan tempe. 
Ada juga jenis pengalaman yang lain, yang biasa dikenal dengan pengalaman religius. Pengalaman ini menandai sebuah kontak yang hidup dengan Yang Ilahi melalui kesadaran akal budi. Pengalaman ini lahir dari kondisi natural yang muncul dari dalam diri manusia. Secara alamiah, ada kecenderungan dari dalam dirinya untuk kembali kepada Yang Ilahi, dengan berbagai ungkapan ritus liturgisnya. Bahkan tanpa perlu mencari dasar-dasar yang menyusun iman di dalam peristiwa historis dari Perjanjian dan Perwahyuan, seperti dalam tradisi katolik.
Oleh sebab itu, pengalaman religius katolik merupakaan salah satu pengalaman dari ratusan dan ribuan pengalaman religius setiap orang untuk mencoba menempatkan diri dalam relasi dengan Yang Ilahi. Satu hal yang mencirikaskan pengalaman religius katolik adalah sosok Allah yang bisa dikenali oleh manusia sejauh Dia mewahyukan diri kepadanya (DV 2).
Dengan demikian, pengalaman religius katolik tidak berbicara soal pengalaman tentang Allah saja, melainkan pengalaman dengan Allah. (Alfonsus Widhi, sx)

Lettura d'oggi

Friends