Visualizzazione post con etichetta Spiritualitas awam. Mostra tutti i post
Visualizzazione post con etichetta Spiritualitas awam. Mostra tutti i post

venerdì 26 settembre 2014

Menyambut Sinode Para Uskup 2014 tentang keluarga

Bagimana kabarnya katekese keluarga? Ini berkaitan dengan pewarisan iman. Pewartaan, perbuatan dan kesaksian iman merupakan tiga aspek yang terwujudnya katekese iman. Pewartaan lahir dari pengalaman iman, perbuatan mengevaluasi kata-kata dan kesaksian iman meneguhkan apa yang diimani dan dihidupi. Keluarga merupakan tempat dimana anak-anak menimba iman dari orang tua. Pewarisan iman dalam keluarga ini  kemudian dilanjutkan dengan pendampingan dari paroki yang menyediakan kursus-kursus untuk pemantapan iman. Setelah menyelesaikan masa katekumenat, katekese umat dilanjutkan dengan katekese persiapan komuni pertama, katekese persiapan penerimaan sakramen penguatan, kursus persiapan perkawinan, hingga kembali lagi ke katekese bagi orang tua yang anaknya akan dipermandikan. Di dalam rentang ini, ditemukan juga berbagai tawaran untuk memperdalam iman seperti aneka kegiatan pertemuan lingkungan, BKSN, bulan Maria, bulan Rosario, kursus pendalaman Kitab Suci, dst.
Letakkanlah sebatang kayu kecil untuk menenangkan air yang bergelombang
letakkanlah salib Kristus untuk menenangkan badai dalam hidup
Instrumentum laboris (Dokumen kerja) Sinode para uskup sedunia tentang keluarga, yang memuat jawaban-jawaban dari konferensi-konferensi wali gereja di seluruh dunia, menggambarkan situasi global katekese keluarga demikian:
(51.) Ada berbagai banyak jawaban yang serupa dari berbagai benua berkaitan dengan persiapan perkawinan. Kami menemukan banyak sekali kursus-kursus di paroki atau di seminari, retret doa untuk pasangan, yang melibatkan baik imam dan volunteer, pasutri yang matang dalam pengalaman hidup berkeluarga sebagai pemrakarsa. Dalam kursus-kursus persiapan perkawinan ini, beberapa tujuan yang ingin dicapai adalah: relasi pasangan, kesadaran dan kebebasan dalam pilihan, pengenalan tugas-tugas sebagai pribadi, sebagai anggota masyarakat dan sebagai umat beriman, pengulangan katekese inisiasi dengan memberi perhatian secara khusus pada sakramen perkawinan serta mendorong keterlibatan pasangan pada kehidupan menggereja di lingkungan dan di masyarakat

giovedì 25 settembre 2014

Menikah = SInkronisasi jam tangan (5)


5) Dari hidup bersama menuju bersama-sama menghidupi keluarga. Perasaan cinta pada pasangan kerap menjadi alasan mengapa seseorang memutuskan untuk mengkekalkan cinta itu dalam ikatan janji perkawinan. Tetapi, ikatan janji perkawinan tidak boleh dibingungkan dengan perasaan spontan mencintai pasangan. Ikatan janji bersifat tetap, sedangkan perasaan seseorang pada pasangan itu bersifat dinamis. Perasaan cinta itu kadang bernyala-nyala seperti api yang membara, kadang juga dingin seperti es  dan menjadi seperti orang asing di rumah sendiri.
Duduk dan ngopi 5 menit besama, bukanlah membuang waktu
Ketika rasa cinta mulai menghilang dan legalitas hukum ikatan janji perkawinan mulai ditekankan, muncul alarm dalam relasi yang tidak bisa ditunda lagi untuk diperhatikan. Nervosisme dalam berelasi mulai muncul dengan memberi jarak mekanisme pembelaan diri pada pasangan dengan misalnya, mencari kambing hitam pada olah raga, pekerjaan, kecapaian, sakit kepala dst.

Menikah = Sinkronisasi jam tangan (4)


4) Tetap berbeda, tetapi saling tergantung. Kita terbiasa melakukan segala sesuatu secara mandiri, sendiri dan dalam kesendirian atau bersama-sama dengan orang lain? Dalam keluarga, beberapa contoh diskusi seperti ini kerap muncul. Misalnya, apakah berpartisipasi dalam doa lingkungan atau latihan koor bersama-sama di lingkungan adalah buang-buang waktu saja? Apakah membawa anak-anak untuk ikut bina iman di wilayah, mendorong remaja untuk ikut kegiatan OMK atau melibatkan diri sebagai volunteer untuk kegiatan-kegiatan di paroki itu tidak baik bagi perkembangan mereka? Bagaimana mengefektifkan komunikasi bagi keluarga yang semuamnya berkarier, dimana waktu efektif untuk bertemu, berkumpul, tinggal bersama dan menghidupi dinamika keluarga minimal hanya tiga sampai empat jam per hari?
Bersama menjunjung
Negosiasi dan dialog dalam keluarga bukanlah sebuah kegiatan teknis atau sebuah kesepakatan semata, melainkan ingin menggarisbawahi dan menjaga ruang privat dan ruang berbagi dalam keluarga. Sampai dimana batas saya sebagai suami / istri dalam relasi dengan pasangan saya. Hal-hal mana yang bisa dan boleh dibagikan, boleh diketahui, boleh diintervensi dan mana yang tidak boleh dan tidak bisa. Ruang dialog adalah dampak dari kesiapsediaan afektif masing-masing untuk saling memberi satu sama lain, atau justru merupakan ungkapan saling ketergantungan satu sama lain untuk menemukan ukuran dan patokan yang sesuai. Logika yang ditawarkan di sini adalah transformasi sikap dasar, dari peneguhan ego hanya saya saja atau hanya kami saja (mungkin juga absah-absah saja) menuju pada ketergantungan satu sama lain yang dipilih hanya karena cinta, untuk cinta dan demi cinta, dengan menghargai dan menerima kondisi pasangan apa adanya; atau, dari sikap mau mendikte pasangan, menuju memahami pasangan.

Menikah = Sinkronisasi jam tangan (3)


3) Pengaruh masa lalu bagi hidup perkawinan. Kadang kita pernah mendengar ungkapan ini: ah, kalau suka ngotot itu mah penyakit turunan! Dia mah mau menang sendiri dan gak mau ngalah! Meskipun dia gak punya apa-apa, tapi kalau ada orang yang minta sesuatu, pasti diada-adakan deh; atau, meskipun dia kelelahan, kalau ada teman yang ngajak pergi, pasti dia pergi! Dia mah cuek mulu.. Dia itu sederhana banget! Kalau bajunya belum sobek, gak mau diganti! Dia itu pendiam, tapi kalau sekali bicara, pasti ada maknanya…
Kerapkali hal ini tidak dapat dipungkiri muncul dalam karakter dan sikap masing-masing pasangan. Variasi sikap dan perangai kita muncul karena pengaruh yang diterima dan terkondisikan secara tidak sadar di masa lampau. Sejauh mana hal itu disadari oleh masing-masing pribadi dalam relasi pasutri baru? Seolah-olah ada sebuah gejala transfer dalam kehidupan kita: cara berpikir, cara merasa dan bertindak di masa lampau itu terungkap secara tidak sadar dalam relasi kita yang sekarang dengan pasangan, dengan orang lain atau dengan peristiwa dan hal-hal di sekitar kita. Maka, PR besar buat pasutri muda adalah menyadari karakter-sikap yang muncul secara otomatis. Perlu dikenal betul asal muasal emosi yang muncul serta reaksi – sikap yang ditimbulkannya.
Banyak jalan menuju ke Roma,
banyak pengalaman kehidupan
para pasangan telah membentuk diri masing-masing
untuk tiba hingga hari ini
Bagaimana hal ini bisa mempengaruhi relasi pasutri muda? Kehidupan baru bersama pasangan bisa merupakan sebuah titik awal, tapi juga titik akhir. Perlu kita ingat bersama bahwa pasangan kita bukanlah sebuah kertas HVS putih, kosong dan halus dimana siapapun bisa menorehkan tinta semaunya. Dalam diri masing-masing pasangan, ada kecenderungan tetap untuk “memaksakan” secara tidak sadar, sebuah situasi seturut dengan gaya hidup yang selama ini dia alami bersama keluarga asalnya, yang dia pandang baik. Setiap orang berelasi dengan orang lain mirip dengan cara berelasi yang terbentuk secara perlahan-lahan di masa lampau. Misalnya, bagaimana saya menyapa orang asing? Apa yang harus saya lakukan jika bersalah? Apa yang saya lakukan ketika saya ingin menang padahal saya sendiri menyadari bahwa saya salah? Apa yang harus saya lakukan ketika ada orang meminta maaf? Bagaimana ungkapan kebahagiaan dan kemarahan saya? Apa yang saya pikirkan dan ingin terapkan dalam keluarga tentang doa bersama, makan bersama, pengaturan keuangan, kesehatan dan pendidikan? Reaksi spontan apa yang muncul di hadapan sebuah peristiwa yang mengagetkan? Dan masih banyak lagi…. Ini mirip dengan mencampur anggur lama bersama dengan anggur yang baru.
Dalam hukum sebab akibat, tekanan timbal balik dari masing-masing pasangan kerap menghasilkan pertentangan kekuasaan atau dominasi dalam keluarga, karena masing-masing bersikukuh akan kebaikan menurut pengalamannya. Tanpa masuk dalam sebuah ketegangan dan mempersalahkan atau membenarkan masa lalu dan sekarang, perlu kita menerima bahwa kepribadian kita dibentuk karena pengaruh lingkungan. Apa yang kita lakukan kepada pasangan dan orang-orang di sekitar kita saat ini, terpengaruh sedikit banyak oleh pengalaman kita di masa lalu, sejak kanak-kanak. Masalahnya bisa bervariasi, tetapi cara menanggapinya bisa serupa, karena dipahami dengan tidak sadar dengan cara serupa di masa lalu. Maka, reaksi yang muncul juga diperkirakan tidak jauh-jauh amat, meskipun situasi sekarang berbeda dengan situasi masa lalu.

Komitmen untuk membuat sebuah kehidupan bersama, kerap diwarnai dengan kerikil-kerikil tajam karena masing-masing mengeluarkan dari ranselnya, pola pikir, gaya hidup dan cakrawala yang lama, yang tidak sesuai dengan pasangannya. Masing-masing menilai pasangannya sesuai dengan apa yang dipikirkan, bukan menurut situasi dan konteks yang sedang dialami pasangannya pada waktu itu dan di situ. Mengetahui hal ini dengan sadar adalah langkah pertama. Berikutnya adalah menyadari sikap kolot masing-masing dengan tersenyum dan sadar bahwa sekarang waktunya untuk berubah dan memikirkan yang terbaik bersama. Ingat, bahtera kehidupan keluarga baru berangkat dari dermaga. Dengan demikian penting sekali mengenal lingkungan sekitar dimana pasangan kita itu hidup, untuk memahami sebab musabab munculnya sebuah reaksi yang mengagetkan kita. Reaksi yang muncul itu hanya penampakan saja, di baliknya, ada sebuah situasi yang membentuknya. Mari kita pahami situasi gunung es di bawah laut itu, karena menikah adalah mensikronkan jam tangan, menyelaraskan kehidupan dua insan.
bersambung....

Menikah = Sinkronisasi jam tangan (2)


2) Satu, tapi dua. Bersatu tapi berbeda. Itulah dinamika sebuah keluarga. Di awalnya berbicara tentang jam pulang kerja, mengobrol tentang situasi di tempat kerja, bicara sedikit tentang  jam berapa mulai tidur, siapa yang mematikan lampu, tidur dengan lampu terang benderang atau dimatikan atau pakai lampu kecil, jam berapa bangun dan makan pagi bersama, siapa yang siapkan makanan, apa yang dilakukan pada hari minggu atau hari libur … Kalau dibuat daftarnya, tentu akan sangat panjang. Dalam dialog ini perlahan kedua partner akan memahami kemampuan individuasi dan persekutuan dari masing-masing pasangan.
Ini matahari sedang terbit atau sedang tenggelam?
Ada dua kutub muncul dalam dialog ini. Di satu sisi adalah tingkat individualitas dan pemahaman tentang perbedaan, serta di sisi lain adalah tingkat persekutuan dan relasi. Dinamika kedua kutub ini menjadi bumbu dalam membangun sebuah keluarga, dalam menciptakan keharmonisan, yang tetap menghargai perbedaan identitas. Dialog mulai sulit ketika masing-masing pasangan kehilangan sudut pandang positif akan yang lain, atau dengan kata lain, hanya melihat bahwa pendapatnya saja yang paling benar dan tidak bisa dikompromikan! Individualisme yang berlebihan ini akan merugikan persekutuan hidup yang telah diputuskan bersama dan sedang dibina dengan pasangan.
Memiliki otonomi pribadi dan tahu menempatkan diri dalam relasi dengan pasangan, merupakan dua garis perkembangan sebelum pernikahan. Akar kematangan kepribadian ada dalam pengalaman dasar sejak masa kecil di keluarga dan segebok pengalaman yang dilaluinya di kemudian hari, memberikan kontribusi untuk makin membentuk atau merapuhkan dia.
Di saat pacaran, mengetahui dengan baik calon pendamping hidup itu sangat penting. Tujuannya agar masing-masing memahami identitas, kematangan kepribadian dan kesanggupannya untuk berbagi, untuk mensinkronkan dua jam tangan yang berbeda, serta tidak berpikir untuk bisa mengubah yang lain. Pribadi yang kurang dewasa dan kurang matang, justru akan memberatkan dirinya sendiri pada saat menjalani hidup perkawinan. Berpikir bahwa bisa merubah yang lain pun harus dimulai dengan perubahan dalam diri sendiri.
Beberapa bahan untuk permenungan bersama:
  • Unsur-unsur dan nilai-nilai apa sajakah yang menjadikan keluarga itu sebuah lembaga khas dan unik?
  • Alasan historis dan sosial apakah yang menjadikan keluarga modern saat ini mengalami kesulitan untuk menentukan identitasnya?
  • Apa yang menjadi isi panggilan dan perutusan keluarga-keluarga katolik di masyarakat dan di Gereja?


Tidak bisa membangun sebuah keluarga tanpa bagasi belaskasih dan iman (E. Schneider)

Menikah = sinkronisasi jam tangan (1)

Menjelang Sinode para uskup seduni tentang keluarga, tergoda keinginan saya untuk memfokuskan perhatian pastoral saya pada tema ini sebagai kerangka dasar dalam beberapa bulan ke depan. Banyak pro dan kontra yang muncul berkaitan dengan tema-tema dan paradigma yang disodorkan oleh sinode. Sebuah artikel tentang kehidupan berkeluarga saya ketemukan di antara tumpukan file lama, dari Paolo Magna, berjudul Oggi Sposi: Sincronizzare gli orologi. Artikel ini diterbitkan tahun 2009 oleh majalah Tredimensioni (6). Membacanya berulang membuat saya berpikir dan mengkonfrontasikannya dengan kehidupan berkeluarga yang ditemui oleh umat paroki di sini khususnya. Benang merah yang dituliskannya pun berbaur dengan kehidupan konkret, maka upaya menterjemahkannya pun tidak bisa lurus apa adanya, melainkan berkarakter inkarnatoris: ada kata dan fakta yang tertoreh di sini. Bagi rekan-rekan pembaca blog ini, selamat membaca dan mari kita membangun pastoral keluarga di tempat dimana kita berada.
Hidup itu kalau penuh dengan dinamika, sangat indah.

Apakah berbicara tentang pernikahan di zaman kita ini, adalah sesuatu yang menakutkan? Apakah ini “kuk” yang harus dipanggul oleh pasangan muda? Perlu disadari bahwa dengan menikah, ada dua jam tangan yang dicocokkan, ada dua ritme kehidupan yang disejajarkan (bukan disamakan!) di bawah satu atap. Ada pergeseran dari cinta romantis dan berkarakter pribadi, menuju pada cinta yang realistik dan sebuah komitmen berbagi bersama. Cinta yang sudah diresmikan dalam ikatan perkawinan ini pun, akan masuk dalam realitas hidup bersama di masyarakat.
Jarang sekali ditemukan fakta bahwa orang memutuskan untuk menikah itu terjadi dua minggu sebelum hari pernikahan! Menikah bukanlah hasil sebuah spontanitas untuk tinggal bersama, tetapi merupakan sebuah tindakan yang direncanakan secara konkrit dan sengaja direncanakan. Bicara soal pacaran, disinilah kita bisa mengevaluasi kualitas pacaran yang baik hingga menuju pada sebuah perkawinan. Tidak hanya yang baik, yang indah, yang romantis saja yang dihidupi bersama-sama, tetapi perlu juga mengenal jatidiri sesungguhnya dari pasangan, yang bersamanya aku akan tinggal seumur hidup! Banyak hal harus diketahui dan dikenal dari pasangan.
Kita patut heran, jika ada salah satu pasangan mengatakan bahwa, ternyata dia bukan yang kukenal selama ini…, atau menyesal telah menikah dengannya…, atau menyampaikan litani keluhan tanpa akhir tentang pasangan beberapa saat setelah menikah. Oleh sebab itu, perlu ada beberapa tugas yang harus dilakukan.
1) Melacak jejak. Pasangan harus memiliki kekuatan jelas untuk membatasi daerah privat dan publik yang dimiliki sebagai hasil sebuah perkawinan. Daerah privatnya adalah relasinya dengan pasangan, secara internal, sebagai sebuah keluarga. Anda berdua yang baru menikah, memiliki sebuah tanggung jawab baru, daerah baru dan pasangan baru. Daerah ini harus dilindungi dari setiap “penyusup”. Beberapa penyusup dalam keluarga muda adalah: mertua (orang tua masing-masing pasangan), ritme kerja (selalu pulang malam dan lelah), tekanan ekonomi (kebutuhan membengkak sehingga harus kerja lebih banyak), stress di tempat kerja…ini semua bisa menjadi kerikil-kerikil yang merintangi relasi suami istri sebagai keluarga.
Tentang mertua, bukan berarti memutuskan relasi total dengan keluarga yang baru dibangun, tetapi, perlu mendidik mereka agar memiliki relasi yang baru, yang sejak saat ini, adalah dengan sebuah pasangan keluarga, bukan pertama-tama dengan anaknya sendiri. Bagi mertua, hal ini tidak mudah, terutama bagi keluarga yang protektif. Bagi keluarga protektif ini, anak-anak itu selalu anak-anak, muda dan tidak berpengalaman, untuk menyadari apa artinya membangun sebuah keluarga. Orang tua merasa paling tahu yang terbaik tentang apa yang dibutuhkan oleh anaknya yang sudah menikah. Wacana tentang “kebaikan” menurut mertua dan menurut keluarga baru harus dibicarakan, bukan dikondisikan dan dipaksakan. Pembatasan diri bagi pasangan muda juga tidak mudah, karena mereka merasa selalu perlu bantuan dan merasa tidak bisa dewasa dan harus terikat dengan orang tua. Wacana kemandirian keluarga baru adalah wujud dari kematangan kepribadian dua orang yang mengikat diri dan berkomitmen untuk membangun sebuah keluarga. Terimakasih kepada orang tua yang sudah melahirkan, mendidik dan membesarkan anak. Sekarang jatah porsinya anak untuk membangun sebuah keluarga. 

sabato 24 maggio 2014

Manusia adalah mahluk yang tak cukup diri

Sebuah perkampungan di Thailand
Barangkali inilah yang menjadi alasan mengapa ada system kehidupan bersama dalam sebuah masyarakat. Sebuah system yang mengatur kebijakan tentang apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang baik dan tidak baik untuk dilakukan. Kehendak untuk berbagi kerap mengiringi sebuah system kehidupan bersama. Dalam sebuah tatanan yang sehat, tema pokok yang kerap dibagikan berkaitan dengan kebenaran, kebaikan dan keindahan. Dengan merujuk pada ketiga aspek ini, maka beberapa orang berkumpul bersama dan berupaya menjaga dinamika kestabilan kehidupan mereka.
Tidak jarang pula ditemui di sekitar kita sebuah tatanan yang berpikir autarki, karena mengandaikan bahwa masing-masing orang memiliki permasalahannya sendiri-sendiri, masing-masing sanggup memenuhi kebutuhan dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan berbagai kemajuan teknologi saat ini, pola pikir demikian bisa makin disuburkan dan bisa juga makin dimiskinkan.
Ketika manusia sudah menemukan daerah nyaman di jejak kehidupannya karena memiliki rumah beserta dengan segala isinya tempatnya berlindung, pekerjaan sebagai sarana mengaktualisasikan diri, status sosial sebagai jalan untuk menempatkan diri dalam tatanan masyarakat dan harta yang menjadi bukti kesuksesan hidupnya, bisa jadi manusia seperti terbentuk menjadi individu autarkis. Segala sesuatu tercukupi, untuk apa bersosialisasi?

giovedì 29 novembre 2012

Spiritualità della città / spiritualitas kota

è da quasi un anno che sono rientrato in Indonesia. Sento ancora il battito del cuore della bellezza dello studio che ho terminato a Roma un po' più di un anno. Infatti, finora il ritmo di vita è sempre quello... non ci sono tanti cambiamenti. Ero a Roma con 4 milioni di abitanti... adesso a Jakarta, ci sono più di 10 milioni abitanti.... il ritmo della vita frenetica si trova anche qui. La pazzia per il traffico tremendo, la pioggia che porta i problemi con i viaggiatori dei moto-motorini, il tempo breve per la famiglia, il tempo perso per viaggiare ecc. Insomma, la dinamica del vivere in città mi fa riflettere sulla spiritualità della città. Di che cosa si tratta dal punto di vista evangelico?
 
La spiritualità della città è legata al modo di vivere la vita in comunione. Così lo stare insieme con gli altri apre una strada per condividere il principio, il fondamento e il punto di orientamento della vita di ciascuno. Di conseguenza, l’aspetto comunitario della città restringe una vita privata separata dai muri e sviluppa la bellezza della condivisione.
p. alfonsus widhi
misionaris xaverian
 
Spiritualitas kota terkait dengan sebuah gaya hidup dalam kebersamaan. Maksudnya, tinggal bersama orang lain membuka sebuah jalan untuk saling berbagi juga prinsip dan dasar kehidupan, maupun hal- hal yang menjadi orientasi pokk dalam kehidupan. Jika hal ini terus dihidupi, kita bisa berharap bahwa aspek komuniter dari kehidupan di kota bisa makin menekan sebuah kehidupan privat yang dipisahkan oleh dinding-dinding yang tinggi... dan semakin bisa mengembangkan sebuah semangat saling membagi, layaknya dalam sebuah keluarga.
p. alfonsus widhi
misionaris xaverian

venerdì 16 novembre 2012

St. Agostino: Riposo

mio confratello Andrea, adesso è un missionario in Mozambico 
 
Il riposo, è il fine  a cui tende la creazione e il suo compimento. E noi siamo artefici con Dio di questa pienezza. Di conseguenza, il riposo è il tempo liberato, è un anticipo del riposo escatologico. È la fine senza fine. (Agostino: sermone IX, 3)
è vero che il riposo è un momento non-efettivo, non-produttivo? A volte si pensa che il riposo è un momento libero, facoltativo, un periodo di non far niente e perciò non si produce nulla! C'è sempre la tensione tra lavorare e riposare. Però, ricordiamoci che il riposo è un periodo difficilmente da passare perchè in esso, l'uomo deve conquistare se stesso!
Buon riposo...
 

venerdì 7 settembre 2012

Tolak Korupsi - No alla corruzione

Entra il discorso della corruzione negli esercizi spirituali? beh.. direi di sì, dipende da come impostiamo il significato che glielo diamo. Prendere sul serio questo tema quando si tratta di parlare della libertà e degli impegni per avvicinarsi al Signore attraverso la preghiera personale per tutto il giorno .. per tutte le quattro settimane. magari è una cosa difficile quando si deve pensare. Però, quando si fa con il cuore sincero per poter conoscere la volontà di Dio, allora quei quattro settimane andranno in fretta a finire.
La corruzione durante gli esercizi spirituali possono succedere quando e come vogliamo, togliendo gli obblighi e le regole che stanno dietro gli esercizi. Il discorso più preciso riguarda il cuore. Dove sta il tuo cuore? Il filmato che viene di seguito parla della corruzione al livello più generale che succede nella nostra quotidianità... non giudichiamo, ma vediamo noi stessi come il soggetto degli esercizi. Siamo pronti per andare a disparte insieme con il Signore SOLTANTO? Siamo disposti a stare insieme con lui nella preghiera, nel digiuno e nella risurrezione?
Vi auguro tutti buona giornata!
Che questi giorni di preparazione siano davvero i momenti più belli della vostra vita.
alfonso sx


sabato 21 luglio 2012

Renungan Minggu Biasa XVI (B)

Kawanan domba di jalan setapak menuju Xavier - Spanyol

Apa perbedaan antara seorang penggembala domba dan penggembala bebek? Dua-duanya punya tanggungjawab menggembalakan binatang piaraan. Meskipun sesama penggembala, mereka memiliki keunikan yang bisa disharingkan satu sama lain. Mari kita simak perbedaan yang mencolok diantara keduanya.
Pertama, penggembala domba menggembalakan domba-dombanya dari depan. Maka, semua binatang itu mengikutinya dari belakang; sementara penggembala bebek mengarahkan pasukannya dari belakang. Seolah-olah, dia menjadi actor di belakang layar yang mengatur semuanya.
Lalu, bagaimana trik mereka untuk mengarahkan binatang-binatang yang dipercayakan kepada mereka? Bagi penggembala domba cukup mudah karena domba-domba itu mengenal tuannya. Makanya tidak ditemukan kesulitan cukup berarti karena domba betina misalnya, dia ini cukup pemalu, tapi amat pandai dan memiliki kemampuan memori yang lebih tinggi dari domba jantan. Dengan demikian akan memudahkan dia untuk menangkap instruksi dari penggembalanya atau membaca situasi di sekitarnya.
Di sisi lain, bagi penggembala bebek, tantangan terbesar darinya adalah menghadapi ocehan dan komentar-komentar dari kawanannya yang tidak pernah diam sejenak. Ketika dia mengarahkan tangan ke kiri, si kawanan pergi ke kanan; demikian juga ketika dia mengarahkan tangan ke kanan, si kawanan pergi ke arah sebaliknya. Tetapi begitulah dinamika kehidupan kawanannya yang penuh dengan keramaian dan kontradiksi.
Bacaan dari Yer 23,1-6, Mzm 23 dan Mk 6,30-34 mengarah semua ke model kepemimpinan. Kita ingat bahwa tugas para penggembala adalah menghidupi spiritualitas imam, nabi dan raja. Saya mempersempit sharing pada bagian terakhir, yaitu tugas penggembalaan sebagai raja.
Figur yang disodorkan oleh Markus amat menarik. Logika penggembalaan sebagai raja dideskripsikan  pertama-tama sebagai figur Yesus yang mengayomi para pekerja pastoralnya. Yesus pertama-tama membaca dan menyentuh hati mereka yang menjadi perpanjangan tangan-Nya. Dia menciptakan sebuah komunio / paguyuban yang berpusat pada diri-Nya sendiri. Paguyuban ini melahirkan sebuah paguyuban dan berujung pada karya pastoral. Di sini kita menemukan satu figure kepemimpinan yang harmonis dimana ada keseimbangan antara pentingnya sebuah paguyuban, persaudaraan dan kebersamaan bersama diantara Yesus dan pekerja pastoralnya, lalu di sisi lain, dari kehidupan di dalam paguyuban ini, yesus mengirim mereka untuk pergi. Maka, kedua aspek ini, yaitu istirahat dan kerja, atau paguyuban dan karya pastoral itu memiliki makna yang seimbang.
Dari sini, mari kita memperdalam penerapan dua tema di lingkungan kita: istirahat dan kepemimpinan.
ketika lewat di Basilika St. Petrus di waktu malam... 
Kepemimpinan
Apakah figur kepemimpinan yang disodorkan oleh Markus itu masih relevan hingga 2000 tahun sesudahnya? LG 88 30 menggarisbawahi kembali logika ini dengan menyatakan bahwa para imam itu tahu, bahwa mereka tidak dididik untuk menanggung beban semua kehidupan pastoral gereja. Tugas mereka adalah menggembalakan domba, umat beriman, gereja dan mendampingi mereka untuk mengenal kekayaan rahmat, karisma dan pelayanan yang mereka miliki, dengan harapan agar mereka pun bisa bekerja sama, sesuai dengan kemampuannya, untuk kebaikan bersama (al bene comune).
Dengan demikian, kepemimpinan para pastor paroki bukanlah sebuah kepemimpinan otoriter. Misalnya: “saya menjadi pastor paroki di sini, maka ini semua milik saya. Dewan pastoral paroki itu ada dalam binaan saya dan mereka semua harus tunduk pada saya.” Logika seperti ini masih ada dan kerap saya temukan.
Contoh yang lain misalnya bisa kita lihat pada kehadiran para kongregasi religius di paroki kita. Apakah mereka hadir, berkarya dan terlibat dalam dinamika kehidupan paroki atau terlalu sibuk dengan karya pastoralnya sendiri; misalnya bekerja menghasilkan income bagi kongregasi dan kurang cooperatif dalam kegiatan-kegiatan di paroki?
Saudara/i, misteri gereja adalah misteri integrasi timbal balik antara kaum awam, rohaniwan/wati dan imam. Di dalam gereja tidak ada warga kelas satu dan kelas dua. Kita semua adalah ranting-ranting yang tumbuh dan berkembang dari satu pokok anggur, yaitu Yesus sendiri. Posisi yang kita miliki sekarang adalah pengejawantahan dari rahmat dan karisma yang diberikan oleh Allah kepada kita.
Maka, lembaran dari kitab yeremia merupakan sebuah pukulan keras bagi para pemimpin, penggembala yang membawa kawanannya atau mereka yang dipercayakan kepadanya, kepada jalan yang menyimpang. Para gembala itu bisa jadi uskup, pastor, suster, orang tua, guru, pengurus di paroki, pemimpin masyarakat, politikus, gubernur, ketua RT/RW dst.
Istirahat
Apakah memang benar, kalau kerja dan istirahat itu memiliki makna yang seimbang? Bukankah kita kerap berpikir bahwa kita itu menjadi amat efektif kalau bekerja / istirahat, dan tidak produktif kalau diam saja? Mari kita telaah makna dari kata istirahat. Kesan pertama adalah bahwa istirahat itu merupakan waktu bebas dari pekerjaan, atau sebuah waktu dimana tidak ada sesuatu yang wajib dikerjakan. Bisa jadi, waktu istirahat adalah waktu untuk menjadi pelancong, liburan, menjadi konsumen semampunya atau waktu untuk dapat berekspresi semau gue. Pemahaman waktu istirahat ini sudah dimanipolasi dan teralienasi dari logika “bekerja” yang sesungguhnya.
Memang benar bawah jati diri manusia pada dasarnya tercipta untuk bekerja, beristirahat, tidur, bernyanyi, menari dan juga berdoa. Tetapi kalau kita melihat unsur masing-masing, semuanya ada dalam sebuah ketegangan, sebuah tarik ulur. Misalnya, antara kerja dan istirahat, antara berdoa dan bekerja, meluangkan waktu untuk keluarga, lingkungan dan tempat kerja, memberikan perhatian pada anak, pada teman, pada rekan kerja atau pada gereja. Semuanya ada dalam ketegangan seperti digambarkan dalam kitab Qohelet 3,1-5. Tetapi jangan dilupakan bahwa dalam lembaran kitab Perjanjian Lama, kita bisa menemukan beberapa teks yang menyatakan bahwa dalam waktu tenang, istirahat dan hening, Tuhan menyatakan diri-Nya. Waktu ini bukanlah waktu pasif dan tidak berguna. Justru sebaliknya, ketika manusia itu pasif, Tuhanlah yang justru berinisiatif member petunjuk dan mengarahkan jalan hidup manusia (bdk. Mzm 127,1-2, kisah penciptaan di Kej 2 atau kisah panggilan Musa di Kel).
Jadi bisa disimpulkan bahwa waktu istirahat ini adalah waktu yang amat efisien untuk kembali kepada akar; waktu amat efektif untuk masuk ke dalam lorong-lorong kehidupan diri kita sendiri dan menemukan pencerahan di dalam Kristus, Sang Gembala kita; waktu untuk memilah-milah dan mengenal hal mana yang merupakan kehendak Allah dan hal mana yang merupakan jebakan untuk lebih menjauhkan kita dari-Nya.
Ajakan
Marilah kita membentuk jiwa kepemimpinan kita seperti Yesus, Sang Gembala baik. Marilah kita beristirahat sejenak bersama Kristus dengan memberikan waktu bagi Dia untuk bersabda, sekaligus menelusuri lorong-lorong gelap dalam hati kita untuk mendapat pencerahan dari-Nya.
p. alfonsus Widhi sx

venerdì 20 luglio 2012

PGDM Paroki Matius-Bintaro


Skema spiritualitas PGDM - Bintaro
Judulnya adalah Paguyuban Guru dan Dosen (di Paroki St.) Matius (Penginjil - Bintaro). Pertanyaan yang muncul pertama kali adalah: Apa itu? Dari mana datangnya? Untuk apa dibentuk?
Untuk memahami apa itu PGDM, ada 4 unsur yang perlu diperhatikan, yaitu: Gereja sebagai sebuah komunio, Misi awam, Panggilan dan organisasi (PGDM) itu sendiri.
Faham tentang Gereja, menurut gambaran dari Surat Anjuran Christifedeles Laici, digambarkan seperti sebuah pokok Anggur dengan mengutip "Akulah Pokok Anggur dan kamulah ranting-rantingnya" (Yoh 15,5). Gereja itu adalah umat Allah yang berkumpul, bahkan, menurut ChL tidak hanya umat Allah saja, melainkan Yesus Kristus itu sendiri-lah sebagai pokoknya. Maka, ide yang dibawa di sini bukanlah sebuah ide yang memecah Gereja antara Hirarki dan Awam (karena pembedaan ini juga salah kaprah!), melainkan sebuah kesatuan antara Yesus Kristus dan mereka yang mengikuti-Nya.
Di sini kita bisa memahami, bahwa misi kaum awam itu melekat pada jati dirinya sebagai seorang yang dibabtis dan menerima tugas sebagai saksi Kristus (dengan Krisma).
Kalau begitu, sekarang kita bisa memahami tugas sebagai guru pun tidak hanya sekedar profesi (yang mengenal kata pensiun), melainkan juga sebuah panggilan (sebagai rahmat dan tugas seumur hidup!). Tugas guru sebagai seseorang awam yang berkarunia profetis dengan kata-kata, bukanlah melengkapi tugas-tugas pastor paroki, bersifat fakultatif, pengisi waktu luang di bisa dibuat a la kadarnya saja! Guru sebagai sebuah panggilan hidup beriman di dalam Gereja memiliki tugas, dengan karakter sekularnya untuk tinggal di dunia dan bersaksi bagi dunia, memiliki tugas profetis yang bersumber pada pokok anggur (Yoh 15,5).
Lalu, apa kaitannya dengan PGDM?
Seorang guru memiliki dua identitas terintegrasi: yaitu identitas panggilan dan relasi dengan Yesus, atau lebih jelasnya, panggilan sebagai guru dan identitas sebagai pengikut Yesus dalam Gereja Katolik. Maka, kalau kita menempatkan panggilan guru dalam konteks kerasulan awam, kita akan menemukan sebuah mozaik beranekaragam dimana kesatuan warna menunjukkan sebuah totalitas, kesatuan hati dan komunione. Sebuah mozaik akan indah jika bermandikan ribuan warna, bukan satu atau dua saja yang dominan. Demikianlah hendaknya PGDM memiliki karakter paguyuban (komunio), Guru/Dosen (panggilan) dan Matius (yang merujuk pada kesatuan dengan Gereja Universal)
P. Alfonsus widhi sx
Bintaro / Misa PGDM 21 Juli 2012

Lettura d'oggi

Friends