Visualizzazione post con etichetta Evangelisasi baru. Mostra tutti i post
Visualizzazione post con etichetta Evangelisasi baru. Mostra tutti i post

venerdì 29 novembre 2013

Spiritualitas misi dalam teks-teks klasik

Membuka-buka lembaran beberapa teks klasik dari para orang kudus, saya temukan beberapa teks klasik ini yang hendak menggambarkan tentang spiritualitas mereka dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Dipakai istilah misi, untuk lebih menekankan makna dasarnya, yaitu pergi, bergerak keluar, sebuah perjalanan dari titik nol menuju ke suatu target. Pergerakan ini tidak mungkin ada tanpa ada sesuatu yang menggerakkan. Nah, dimanakah dan apakah dasar yang menggerakkan para orang kudus itu untuk berkarya?
Marilah kita lihat perlahan-lahan dalam tulisan-tulisan mereka. Saya tidak mau menyuguhkan refleksi saya, tetapi saya mengajak anda sendiri untuk menangkap apa yang tersirat dalam suratan hati mereka.

  • Atti dei martiri di Lione e Vienne: Kristus yang menderita dalam diri para martir
Dalam diri para tampuk pemerintahan dan para algojo, muncul persaingan ketat dalam menyiksa, karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan kepadanya. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk memberikan pelat perunggu pada bagian yang paling halus dari tubuh yang paling rapuh. Anggota tubuhnya terbakar, namun para martir tetap tegas dan pantang menyerah, teguh dalam pengakuan imannya, karena diteguhkan oleh sumber air surgawi - air kehidupan, yang mengalir dari lambung Kristus. Tubuh para martir adalah saksi hidup dari penderitaan. Badannya sudah tereduksi karena luka dan memar, tinggal tungkai dan tidak nampak lagi wajah manusia., tetapi Kristus yang menderita di dalamnya. Ia akan dipenuhi dengan tanda kemuliaan, dengan menunjuk pada diri-Nya sendiri sebagai teladan yang telah mengalahkan para musuh-Nya, agar menjadi contoh bagi orang lain, bahwa tidak ada sesuatupun yang bisa menakut-nakuti kita untuk tinggal di dalam kasih Bapa. Dimana di situ bersinar kemuliaan Kristus, tidak ada derita yang tidak tertanggungkan.
  • Atti dei martiri: il martirio di Perpetua e Felicita: Kristus yang menderita dalam diri para martir
...wanita itu diserang oleh rasa sakit saat melahirkan, seperti yang terjadi pada bulan kedelapan. Dia menderita karena proses kelahiran yang sangat sulit, dan salah satu pegawai yang membantunya dalam persalinan bertanya: "Jika sekarang engkau mengeluh seperti itu, apa yang akan engkau lakukan ketika engkau akan dilemparkan ke teater yang kau benci, ketika engkau menolak untuk mempersembahkan korban?» Dia menjawab, «Sekarang saya sedang menderita. Di sana akan ada Yang Lain yang akan menderita di dalam diri saya, karena saya menderita untuk Dia». Dia melahirkan seorang bayi perempuan, yang kemudian diambil oleh salah satu saudara perempuannya dan mengangkat dia sebagai putrinya (15,5-7).
  • La Vita di Antonio: Misi = kesaksian hidup total pada Kristus
Setelah penganiayaan mereda dan (alm) Uskup Petrus  bersaksi dengan imannya, St. Antonius kembali ke tempat tinggal soliternya dan setiap hari bersaksi dengan hati nuraninya sendiri dan masuk dalam pertempuran iman. Bahkan, dia berlatih asketisme dengan intensitas yang lebih besar. Selalu berpuasa, pakaian dalamnya terbuat dari karung, yang luar dari kulit. Sampai akhir hidupnya, ia mengikuti aturan ini: Jangan pernah mencuci badan dengan air, atau janganlah kaki menyentuh air kecuali bila itu perlu. Tidak ada seorangpun pernah melihat badan St. Antonius, kecuali saat ia dimakamkan setelah kematiannya (La Vita di Antonio 47,1-3).
  • Spiritualitas misi St. Colombanus: Peregrinantes pro Christo.
Mari kita memusatkan diri pada hal-hal ilahi, seperti seorang peziarah yang benar. Dia selalu memiliki  kerinduan pada rumah dan nostalgia ini selalu memotivasinya. Seorang peziarah selalu merindukan, bahkan dengan sangat, akhir perjalanan mereka. Itulah sebabnya, kita pun yang berada di dunia ini, kita adalah orang-orang yang berjalan, orang peziarah. Maka, kita harus berpikir sungguh-sungguh tentang tujuan dari perjalanan ini, yaitu hidup kita. Akhir dari perjalanan ini adalah rumah kita. Di tempat itu nanti, semua orang yang sudah menyelesaikan perjalanannya di dunia, akan memiliki nasib yang berbeda tergantung pada jasa-jasa mereka. Para pejalan kaki yang baik akan beristirahat di rumah mereka. Sebaliknya, para orang fasik tidak akan bisa mencapainya. Pada kenyataannya, banyak orang akan kehilangan rumah mereka, karena mereka lebih mencintai jalan menuju rumah dari pada  rumah itu sendiri. Janganlah kita mencintai jalan lebih dari pada rumah, agar tidak kehilangan rumah kediaman kekal. Maka Rumah yang demikian harus kita cintai (Instructiones VIII)
  • Caterina dari Siena: Misi = rasa memiliki pada Gereja dalam Surat kepada Paus Gregorius XI...
Seseorang yang telah menulis surat kepada Bapa Suci, seperti yang saya pahami, itu seperti setan di dalam jiwa. Sering dia masuk di bawah warna kebajikan dan kasih sayang, kemudian melempar racun. Secara khusus kepada hamba Allah, dia melakukan ini karena hanya dengan cacat pusaka, dia tidak akan tertipu.
Nampaknya wajah setan yang berinkarnasi ini telah menuliskan kepada Bapa suci dengan nuansa penuh perhatian dan kekudusan. Nampaknya dia adalah orang kudus dan benar, namun sebenarnya adalah manusia yang jahat, penasehat para iblis, penyamun dalam kehidupan komunitas kristiani dan reformasi kehidupan menggereja, pecinta cinta diri dan mencari kekayaan bagi dirinya sendiri.
Namun, tidak lama lagi, bapa dapat menyatakan jika dia datang dari orang yang benar atau tidak. Menurut saya, demi kemuliaan Allah, Bpa hendaknya mencarinya. [...] Saya berharap, dengan bantuan Kristus yang tersalib, agar Bapa tidak menjadi seerti anak kecil yang penakut, melainkan seorang yang jantan dan teguh.
  • Madelaine Delbrêl
Dalam lingkungan orang yang skeptis, menjadi penting berevangelisasi. Seseorang tidak bisa memilih antara melakukannya atau tidak melakukannya, dan juga tidak bisa memilih akan berbicara tentang apa [...]. Mewartakan Injil sesuai dengan gaya bahasa orang yang ada di depan kita itu tidak cukup. Perlu mewartakan Injil dengan gaya bahasa Yesus Kristus. Gaya bahasa-Nya adalah selalu disertai dengan kata-kata kemurahan hati-Nya.
 
Salam,
P. Alfonsus Widhi, sx
Paroki Matius Penginjil Bintaro

martedì 27 agosto 2013

Penyegaran Iman Katolik PIKAT IV 2013

Buku Kehidupan Kristus dan Legenda Orang Kudus
yang dibaca St. Ignasius dari Loyola selama masa sakitnya.
Program untuk Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta (ARDAS – KAJ) akan dijabarkan dalam 4 pertemuan. Ini berkaitan dengan implementasi di paroki, terutama untuk mengembangkan lingkungan. Maka, skema yang diusulkan akan sangat praktis karena berangkat dari pengalaman mas Felix dari keuskupan, yang akan bercerita juga tentang situasi di paroki-paroki KAJ secara umum, dan Rm. Natalis, karena pengalamannya di Cikarang dan di Kota Bumi.
Program Credo akan dijabarkan dalam 8 pertemuan: sejarah rumusan Credo, 7 konsili ekumenis pertama, spiritualitas inkarnatoris, gereja sebagai karya allah, 4 dogma tentang maria, menghidupi misteri trinitas, surga neraka api penyucian dan fenomen-fenomen mistik dan eksorsisme di dalam ajaran Gereja. Penjabaran ini terbatas. Karena apa? Tujuan pertama adalah menjawab evaluasi yang disampaikan dan ditulis oleh para peserta dalam PIKAT yang diselenggarakan tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, apa saja dogma tentang Maria? Mengapa ada banyak aliran dan kelompok gereja-gereja yang beriman sama kepada Yesus Kristus? Bagaimana kita menjelaskan tentang “Allah menciptakan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan?” Dan masih banyak lagi pertanyaan yang akan dibahas dan dijawab pada pertemuan-pertemuan kali ini.
Program pendalaman Credo ini akan diawali dengan 2 pendalaman Kitab Suci, berupa proses kelahiran Kitab Suci dan model tafsir Kitab Suci. Kitab Suci merupakan salah satu sumber iman kita. Oleh sebab itu kita pun diajak  untuk membacanya. Namun kita ingat, bahwa Kitab Suci itu lahir tidak sekali jadi melainkan memakan kurun waktu kurang lebih seribu tahun! Oleh sebab itu, ada banyak metode membaca dan menafsir Kitab Suci. Pada kesempatan kali ini, akan dipelajari sebuah metode sederhana bagi umat, meskipun tidak mengenyam pendidikan khusus teologi, agar bisa membaca dan memahami makna yang tersirat, seturut dengan situasi dan konteks yang sedang dihidupi.
Program Sakramen menekankan tentang aspek persekutuan dengan Allah dan sesama, lalu bagaimana persekutuan ini bisa dihayati dan dihidupi di dalam kehidupan sehari-hari. Maka, 5 tema yang diusulkan adalah aspek sosial dari sakramen ekaristi, sakramen perkawinan dari sudut pandang Gereja, seputar kerasulan keluarga di KAJ, spiritualitas penderitaan (berkaitan dengan sakramen tobat dan perminyakan) dan peran keluarga di dalam panggilan (ini berkaitan dengan sakramen imamat khususnya, dan panggilan umum di dalam Gereja). Dengan kursus-kursus ini, diharapkan agar perayaan iman yang kita jalankan bersama dengan komunitas di paroki atau di lingkungan, dapat membuahkan hasilnya di dalam kehidupan sehari-hari.
Program PIKAT dalam sektor Beriman kontekstual terdiri dari 4 pertemuan. Tema-tema ini menyangkut spiritualitas awam, Discernment karisma pada berbagai gerakan / organisasi bernuansa katolik (menjabarkan tentang kriteria-kriteria yang dipakai Gereja untuk memberi penilaian tentang kesehatan gerakan-gerakan ini), bentuk-bentuk hidup kristiani, spiritualitas jejaring sosial (berbicara tentang facebook, twitter, you tube dst. bagaimana itu dievaluasi dan disikapi dari sudut pandang Gereja). Beriman di millenium ketiga memiliki tantangan dan metode yang berbeda dengan beriman pada zaman Yesus Kristus. Iman kita tetap sama, namun konteks zaman berubah dan ini membutuhkan strategi yang berbeda. 
Bagi yang berminat mengikuti kegiatan ini, silahkan menghubungi Paroki St. Matius Penginjil - Bintaro (021) 735.8123 atau (021) 7388.2716, bagian pendaftaran PIKAT.
 

 

 
1.    3 Sept: ARDAS KAJ: Implementasi di Paroki – lingkungan (Bp. Felix)
2.    6 Sept: Proses kelahiran Kitab Suci (P. Purnomo, ofm )
3.    10 Sept: Sejarah Rumusan Credo (P. Eddy, ofm)
4.    13 Sept: 7 Konsili ekumenis pertama (P. Eddy, ofm)
5.    17 Sept: Pengembangan lingkungan (P. Natalis, Pr)
6.    24 Sept: ARDAS KAJ: kaderisasi dan pendampingan pelayan pastoral-leadership (P. Natalis.Pr)
7.    27 Sept: Spiritualitas inkarnatoris: Allah menyelamatkan kita melalui Yesus Kristus (P. Memo, sx)
8.    1 Okt: Peran keluarga dalam panggilan (P. Lukas, osc)
9.    4 Okt: Spiritualitas jejaring sosial (P. Alfons, sx)
10. 8 okt: Bentuk-bentuk hidup kristiani (P. Gerris, sx)
11. 11 Okt: Gereja sebagai karya Allah: Satu, Kudus, Katolik, Apostolik (P. Gerris, sx)
12. 18 Okt: Dogma-dogma tentang Maria (P. Riki, Pr)
13.  22 Okt: Discernment Karisma pada kelompok-kelompok bernuansa katolik (P. Alfons, sx)
14. 25 Okt: Spiritualitas awam (P. Yus noron, Pr)
15. 29 Okt: Surga, Neraka, Api penyucian dan Persekutuan para kudus (P. Purnomo, ofm)
16. 1 Nov: Situasi Kerasulan keluarga di KAJ (P. Erwin, msf)
17. 8 Nov: Model tafsir Kitab Suci (P. Ruby, sx)
18. 12 Nov: Aspek sosial dari Sakr. Ekaristi (P. Adi, osc)*
19. 15 Nov: Sakramen persekutuan: Imamat dan Perkawinan (P. Purbo, pr)
20. 19 Nov: Fenomen-fenomen mistik dan eksorsisme di dalam Gereja (P. Alfons, sx)
21. 22 Nov: Sakr. Tobat dan Perminyakan: Spiritualitas penderitaan (P. Daniele, sx)
22. 26 Nov: Menghidupi misteri trinitas (P. Narko, ofm)
23. 29 Nov: Pastoral kontekstual dan berbasis data di lingkungan (Bp. Felix)
 nb. tanda (*) masih dalam konfirmasi

Jakarta, 27 Agustus 2013
Peringatan St. Monika
by. p. Alfonsus Widhi sx
 

 

domenica 16 dicembre 2012

Berkatekese di dunia digital

Aspek kebudayaan merupakan faktor sentral di dalam evangelisasi. Di dalam kebudayaan benua keenam, internet menawarkan berbagai fasilitas yang mempercepat sebuah proses komunikasi dan tindakan yang terpisah jarak, ruang dan waktu. Pemakaian internet mendorong –mau atau tidak mau– sebuah kreativitas di dalam tindakan dan interaksi yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Dari sudut pandang katolik, tidak cukup sebuah relasi horisontal antar users. «Jika tidak ruang untuk Kristus, tidak ada ruang untuk manusia seutuhnya».

Inilah budaya digital yang mewarnai awal milenium ketiga. Bagaimanakah hal ini disikapi oleh para pewarta injil – para katekis, dalam mengemban tugas pewartaannya dan sekaligus menemukan perannya? Bagian pertama makalah ini hendak membuat foto analisis situasi makro dari benua keenam di awal milenium ketiga. Berikutnya adalah sebuah inspirasi kritis mengenai peranan para pewarta injil – para katekis dalam konteks.

1. MENGENALI SITUASI AWAL MILENIUM III
1.1 Membaca konteks
Apa yang kita ketahui dari gejala teknologi – internet di lingkungan dimana kita tinggal? Berbicara tentang situasi di dalam keluarga, di dalam pergaulan anak-anak muda, di dalam gereja, di tempat kerja atau di kota Jakarta, gejala apa yang mulai menyodok dan membuat perbedaan kehidupan sosial, bila kita mau membandingkan Jakarta sekarang dengan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu?
Dalam konteks global, ditemui bahwa lebih dari 3 miliar penduduk dunia memiliki minimal satu applikasi jaringan sosial (Fb, Twitter, Blog dll). Sebuah survey menunjukkan bahwa Jakarta merupakan kota berpopulasi terpadat dalam dunia Facebook . Aplikasi ini paling banyak diminati karena memiliki berbagai macam program yang menjawab kebutuhan dasar manusia untuk berkomunikasi: jaringan pertemanan, membuat acara, mengirim pesan pribadi, menulis status, melihat dan berkomentar pada profil lain dst. Maka, tidak mengherankan bila sekitar 500 juta users Fb: sekitar 50% membuka Fb tiap hari dan 700 billion menit dilewatkan orang per bulan di Fb, 20 juta aplikasi diinstal per hari dan 250 juta orang berinteraksi tiap hari.
Dalam skala yang lebih kecil, situasi sosial keluarga saat ini mengalami banyak perubahan dengan situasi dua puluh atau bahkan sepuluh tahun yang lalu. Bagaimana pendapat anda tentang beberapa pertanyaan berikut?
+ Apakah anda sering mengirim pesan natal dan paskah secara otomatis lewat HP?
+ Apakah anda, salah satu anggota keluarga atau orang lain, merasa lebih bebas berekspresi di sosial media atau di keluarga?
+ Apakah anda lebih merasakan persahabatan dan komunikasi dalam dunia maya lebih mudah dari pada real?
+ Up date berita terkini anda peroleh dari mana? Bagaimana anda memilah-milah informasi yang credible?
+ Apakah anda sering menjumpai permasalahan dalam keluarga-keluarga muda, berkaitan dengan dinamika berelasi yang berubah? Apakah ada orang tua yang merasa ketinggalan dan kehilangan sesuatu dalam proses pendampingan anak?

Masih ada banyak butir yang bisa diperdalam berkaitan dengan dampak kehadiran berbagai sarana teknologi di dalam dunia modern. Semakin terasa bahwa teknologi mentrasformasi keberadaan manusia. Tidak hanya kabel dan listrik yang terbingkai dan menghasilkan sesuatu yang berubah, melainkan juga pengguna dari teknologi ini mengalami sebuah proses perubahan struktur dasar.
Maka, ide dasar evangelisasi dalam dunia digital itu membaca (berangkat dari) pergulatan manusia katolik dalam proses peziarahan historis-kontekstual. Peran katekis (pewarta) dalam pewartaan (teks) Injil tidak bisa lebas dari konteks (dunia) dimana dia berada.

1.2 Memahami dunia digital teknologi
Untuk memahami benua keenam ini, kita bisa mulai dengan beberapa pertanyaan untuk menuntun sebuah refleksi:
+ Apakah selama ini penggunaan media tradisional seperti majalah, buletin, radio dan televisi, telah menggerakkan dinamika kehidupan beriman seluruh umat? Apakah sarana ini terus makin berkembang, berubah, ditinggalkan dan atau diperbarui seiring perkembangan zaman? Gaya berkomunikasi di sini cenderung satu arah. Proses dialog atau komunikasi bilateral atau komunal memerlukan waktu.
+ Apakah dengan munculnya platform media sosial yang baru, seperti blog, Facebook, Twitter, pinterest, Path… membuat anda berpikir tentang peran media dalam aktivitas pewartaan – katekese? Satu hal yang patut disimak dalam penggunaan Web 2.0 ini adalah transformasi gaya berkomunikasi. Di sini ada sebuah relasi dinamis dalam dialog, perdebatan, diskusi dari bawah ke atas, dari pelosok ke pusat. Siapapun yang memegang social media, akan mendapat informasi dan reaksi dalam waktu yang real.
Di sinilah letak transformasi dari Web 1.0 (majalah, buletin, radio dan televisi) ke Web 2.0 (blog, Facebook, Twitter, pinterest, Path) dimana metode berkomunikasi mulai diperbaharui. Beberapa kebaruan itu adalah:
+ Waktu, jarak dan tempat menjadi relatif
+ Segala teknik dan praktek untuk menciptakan sesuatu dan membagikan hasil kreativitas secara online. Berbagai variasi di sosial media: jejaring sosial, blog, forum, microblogging, video sharing.
+ Identitas berlipat ganda: seorang user bisa menjadi konsumen dan produsen sekaligus.
+ Status semua penghuni: user. Di areopagi semua ada! Kredibilitas dalam dunia real tidak bisa ditransfer secara otomatis dalam dunia maya. Dalam hal ini, yang berteriak lebih keras bisa menguasai publik lebih banyak? Berkaitan dengan hal ini, permasalahan pokok tidak menyangkut soal kompleksitas teknologi, melainkan mentalitas dan logika dari users yang ada dibalik monitor. Maka, seseorang yang memberanikan diri untuk masuk dalam benua keenam ini ditantang untuk berani memberikan alasan dari “kebenaran” yang dia pegang, dia imani dan dia bagikan. Di sini ada sebuah bayangan krisis pemaknaan, ketidak percayaan pada autoritas atau berbagai bentuk hirarki (termasuk di dalamnya hirarki kebenaran?). Dengan semakin tersebarnya jaringan sosial, maka ketidakpercayaan ini bisa menjadi sebuah mentalitas the digital native.

1.3 Refleksi kritis
Membaca dan merefleksikan realitas baru ini, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan berkaitan dari sudut pandang berkatekese dalam konteks. Pertama, dunia internet merupakan sebuah dunia kaotik dan berbudaya sendiri. Segala sesuatu bisa ditemukan. Untuk memasukinya, ada etika ber-ada, berpikir, bertindak dan berelasi yang masih belum terkodifikasi secara resmi. Masing-masing komunitas online memiliki kodenya sendiri. Demikian juga Gereja, memberikan petunjuk etika berinternet dari sudut pandangnya sendiri.
Kedua, penggunaan sosial media memiliki banyak strukturisasi dari koneksi ke relasi atau dari level informatif ke level formatif. Apakah memiliki teman 5000 orang di Facebook membuat anda menjadi tenar dan amat bersahabat dalam dunia real? Belum tentu. Aringa pertemanan ini bisa menjadi pelampiasan egocentrik network. Berada dalam kontak pertemanan belum menjamin berada dalam relasi. Kerap kali yang muncul sebagai kriteria berkawan adalah dominasi dan kombinasi interest personal, emosi subyektif (narsisisme, individualisme). Maka, berkaitan dengan koneksi – relasi, bisa dipertajam pertanyaan yang muncul dalam jaringan sosial sebagai berikut: apakah network merupakan dunia relasi atau dunia orang kesepian?
Berkaitan dengan transisi level informatif ke formatif, kita bisa menganalasis bagaimana kita menerima dna memilah-milah berita yang muncul. Apakah informasi yang anda terima di internet membantu anda untuk membentuk – memformasi diri anda untuk menjadi orang katolik yang dewasa dalam konteks? Apakah semua informasi itu bisa diterima kebenarannya dan dicek validitasnya? Apakah ada perang ideologi dibalik informasi dari surat kabar – news online yang kita terima?
Ketiga, benua keenam menawarkan sebuah struktur kemanusiaan yang baru seperti keinginan untuk selalu omnipresent – hadir dimana-mana dan dalam tempo yang real, identitas ganda dalam berbagai profil yang dibuat atau dalam aplikasi yang diikuti, pemaknaan terhadap waktu yang relatif serta pembedaan realitas real dan imajiner . Apakah di rumah baru ini, para saksi iman, katekis, pewarta menemukan sebuah areopagus baru (Kis 17,22)?
Hal ini bisa ditelaah dengan mendalami bahwa dunia internet menawarkan: bukan program atau aplikasi, tetapi hasrat keinginan (buku, film, teman, musik, group…). Program yang ada merupakan sebuah struktur layanan dan bukan ikatan “sense of belonging”. Setelah satu aplikasi dirasa kurang keren dan berkembang, users akan mencari program lain yang lebih menjawab hasrat yang muncul dalam dirinya. Para users memiliki banyak kebebasan untuk lebih mencari “rumahku” daripada “rumah Allah”.
Apakah mungkin berbicara tentang resiko di sini? Resiko berpastoral dalam dunia maya selalu ada. Berangkat dari unsur-unsur pokok evangelisasi yaitu pewarta, sarana dan inti pewartaan, kita bisa melihat bahwa absennya salah satu aspek ini akan mengurangi efektivitas pewartaan.
Ketika penggunaan platform baru disertai dengan mentalitas tradisional, maka sarana teknologi akan dianggap sebagai strumentum saja. Resiko yang muncul adalah merelativisir subjek yang ada di belakang pengguna teknologi. Akibatnya, struktur manusia dari the digital native, budaya baru yang dimilikinya, karakter personal, cara berpikir, bertindak dan berada sebagai putra putri Allah yang dihidupi itu tidak tersentuh. Bahasa yang berbeda dalam penyampaian pesan injil akan membuat isinya kurang produktif. Di sisi lain, kekayaan aplikasi yang ditawarkan oleh berbagai kemajuan teknologi akan direduksi. Paling banter adalah penghematan waktu dan proses yang dipercepat.
Ketika kematangan pribadi manusia itu kurang seimbang, manusia itu sendiri bisa terjebak pada strumentalisasi teknologi modern untuk memperbesar ke-aku-an dan ke-egois-an pribadi. Pada saat bersamaan, dia akan memanipulasi lingkungan. Kontribusi kedewasaan ini nampak dalam pilihan-pilihan yang dia buat dan dalam metode yang dia gunakan untuk bertindak dalam dunia online. Apakah dalam berpastoral, dia juga mempertimbangkan isi yang disampaikan, subyek yang menjadi tujuan pewartaan dan sarana yang dia pilih untuk memaksimalkan evangelisasi ini?
Ketika agen evangelisasi tidak sanggup membaca tanda-tanda zaman, gejala perubahan sosial yang muncul, permasalahan yang mengambang di udara, maka, resiko yang muncul adalah kontekstualisasi pesan injil di dalam konteks lokal. Orang akan terjebak pada permainan teori dan hukum beragama dari pada proses pembinaan hidup beriman yang dewasa. Oleh sebab itu, perjumpaan autentik, semangat untuk mencintai keheningan, kehendak untuk membuat foto dari situasi dan mengkontemplasikan itu semua dalam terang Injil merupakan upaya yang amat dianjurkan agar evangelisasi yang kita buat itu seiring dengan pesan yang Allah kehendaki untuk disampaikan kepada umat-Nya.

2 PERAN KATEKIS: PERTOBATAN KARYA PASTORAL DALAM KONTEKS
Bagaimana menginkulturasikan iman di era digital? Ini adalah sebuah tantangan pembaharuan katekese di milenium ketiga. Dengan dunia digital, kita dituntut untuk mengkodifikasikan kebutuhan-kebutuhan yang muncul dalam hati manusia 2.0. Saat ini orang mencari Allah di dalam platform yang baru. Bahasa yang dipakai juga berubah.
Para imam kerap menggarisbawahi hal seperti ini: ketika anak-anak dan kaum muda yang melewatkan banyak waktu di internet itu belajar katekismus atau ikut misa, mereka memiliki gaya bahasa yang berbeda. Maka, saling tidak memahami itu amat wajar. Di sinilah pentingnya membentuk para katekis-katekis baru. Katekismus pun hendaknya dipikirkan kembali berkaitan dengan metode dan penyampaian. Karakter dialogis dan partisipatif mulai ditekankan untuk mengimbangi karakter social media. Maka, yang diusung bukanlah sebuah penyampaian informasi – bahan katekese, melainkan mengelaborasi informasi – bahan katekese sehingga terintegrasi dalam proses pembinaan iman dan menjadi bagian dari diriku sendiri. Tumbuh di sini rasa memiliki pada katekese.
Apakah sekarang waktunya untuk menteror para katekis agar merubah dan mentransformasi metode berkatekesenya? Perlu bertindak dengan bijaksana. Kantor-kantor pastoral keuskupan atau paroki hendaknya mulai memperkenalkan dan menjelaskan teknologi baru atau era digital dimana kita tinggal sekarang. Dengan demikian, bisa diharapkan munculnya katekis-katekis baru di masa depan. Kemudian, perlu juga kolaborasi efektif antar paroki – antar generasi.
Ini mengingat bahwa katekese merupakan kegiatan pastoral utama dalam evangelisasi Gereja. Sinode evangelisasi di Roma menunjukkan keseriusan Gereja untuk menghadapi dan menyikapi tantangan dunia modern. Maka, persoalan katekese, tidak hanya dihadapi oleh para katekis, melainkan oleh para jajaran petinggi Gereja sampai di dalam lingkup internasional juga! Budaya digital berkembang, sambil mentransformasi seluruh aspek kehidupan manusia. Dampaknya: struktur manusia berubah, metode untuk menangkap realitas berubah, gaya komunikasi berubah. Akhirnya, gaya hidup pun berubah.
Iman tidak menjadi autentik dan katekese tidak menjadi efektif jika keduanya tidak mengambil resiko untuk membenamkan diri dalam konteks sosial yang sedang terjadi. Mengabaikan dunia digital berarti menutup diri pada tiap kemungkinan evangelisasi dalam budaya modern.
Maka yang dibutuhkan adalah pertobatan dan pembentukan proyek pastoral kontekstual.

2.1 Pertobatan pastoral
Mengingat bahwa tugas katekese pertama-tama adalah membentuk sebuah mentalitas injili kepada umat yang dilayani. Maka, mentalitas yang perlu dibangun adalah sebuah pembinaan kehidupan beriman. Misalnya, tidak hanya kursus persiapan komuni pertama, krisma, perkawinan agar bisa mengikuti liturginya saja, melainkan membentuk mentalitas katolik sesuai tuntutan pada masing-masing tahap. Menjadikan masa persiapan ini sebagai bagian dari pembinaan iman yang terintegrasi dengan kehidupan. Kalau tidak, semua hanya buang-buang waktu saja!
Langkah pertama adalah pertobatan budaya. Pertobatan ini tidak menyentuh aspek pribadi saja, melainkan komunitas secara bersama-sama. Paroki pun didesak untuk mentransformasi fisionominya. Tentu saja dituntut untuk terus menjadi komunitas yang menjaga relasi personal, karya kasih yang nampak, pertemuan pembinaan langsung dan juga pelayanan sakramen.
Tidak hanya itu saja, paroki didesak untuk membuka diri pada dunia digital lewat: situs internet, post elektronik, jejaring sosial (Facebook, Twitter), perpustakaan online … mempertemukan umat untuk bersikap kritis juga tentang media dan pesan-pesannya. Jika generasi the digital native terus berbicara dalam bahasa yang orang tuanya tidak memahami, maka, Gereja akan kehilangan mereka dalam waktu yang pendek di masa depan. Dalam hal ini perlu pendampingan pada orang tua, guru dan agen pendidik agar mereka memahami bahasa dan budaya baru di awal milenium ketiga ini.
Namun kita bisa juga bertanya, apakah Gereja hadir di dalam dunia digital? Bagaimana berbicara tentang Allah kepada manusia milenium III? Dalam budaya baru ini perlu discernment. Tidak semua yang berembel-embel katolik muncul dalam dunia digital adalah valid dan sejalan dengan finalitas Gereja. Tema-tema religius hendaknya diolah dengan kompetensi, dengan sensibilitas dan profesionalitas yang autentik. Diantara beberapa gelintir orang katolik yang hadir dalam dunia maya, sering ditemukan religius, suster, imam, seminaris, bruder juga. Ketiadaan kontrol secara ketat bukanlah merupakan garansi bagi kebebasan berekspresi. Namun, tidak seorang pun punya hak untuk berbicara atas nama Gereja, bila tidak diberi kuasa oleh Gereja sendiri . Maka perlu dibedakan antara posisi dan ajaran Gereja dengan opini personal.
Berikut ada beberapa situs yang mencoba menghadirkan nilai-nilai injili di dalam era digital.

Seputar Vatikan
+ http://www.vatican.va/phome_it.htm
+ http://www.news.va/en
+ http://www.romereports.com/

Berdialog dengan imam / religius
+ http://www.pretionline.it/

Bahan pastoral
+ http://www.siticattolici.it/Segnalazioni_Varie/Siti_Personali/Blog/
+ http://catholicbloggersnetwork.blogspot.com/
+ http://www.bloguerosconelpapa.org/
+ http://www.micromedia.unisal.it/ (untuk pastoral)
+ http://www.maranatha.it/ (untuk pastoral)
+ http://www.qumran2.net/index.php (untuk pastoral)
+ http://www.testimonidigitali.it/ (pastoral online)
+ http://www.vangelodelgiorno.org/main.php?language=IT
+ http://www.comepraytherosary.org/ (pastoral doa dari Tanah Suci)
+ http://it.lourdes-france.org/tv-lourdes/ (on line dari Lourdes)
+ http://www.cuoreimmacolato.it/MIR.asp (on line dari Medjugorje)

2.2 Proyek pastoral
Setiap proyek pastoral hendaknya mempertimbangkan relasi antara bahasa iman dan bahasa baru dalam dunia digital. Teknik-teknik modern bukanlah semata-mata sarana komunikasi, kecanggihan teknologi, melainkan sebuah budaya baru yang masih mengambang di udara dan hendaknya ditangkap dan didefinisikan. Maka dalam ha lini, metode pastoral tradisional membutuhkan kreativitas untuk masuk dalam dunia angkatan digital yang lahir dengan HP di bawah bantal.
“Gereja mempertimbangkan kehadiran sarana-sarana komunikasi modern sebagai pemberian dari Allah, sejauh sarana-sarana tersebut di dalam rencana Kehendak Ilahi, terarah untuk mempersatukan manusia di dalam ikatan persaudaraan. Dengan demikian, sarana-sarana tersebut menjadi sumbangan bagi rencana karya keselamatan-Nya”.
Beberapa aspek berkatekese di era digital:
+ Mensinergikan pengalaman iman dengan budaya digital
+ Memahami bahasa baru dan menelaah dampaknya dalam situasi gereja domestik
+ Mengintegrasikan media dengan katekese di milenium ketiga dimana inti pewartaan tetap sama, namun metode dan cara berkatekese berbeda.
+ Membentuk tim pastoral yang terintegrasi. Dalam hal ini, misalnya perlu juga kerjasama antar seksi di dalam paroki sehingga tercipta sebuah sinergi. Oleh sebab itu, hendaknya dikenali para pewarta iman yang baru di dalam proses evangelisasi Gereja. “Setiap orang dipanggil dengan namanya masing-masing, dalam keunikan dan kekhasannya di dalam sejarah kehidupan pribainya, untuk memberikan kontribusi bagi kedatangan kerajaan Allah. Tidak ada talenta, bahkan yang paling kecil dan sederhana sekalipun, yang boleh disembunyikan dan ditelantarkan (bdk. Mt 25,24-27)”.
+ Jika dimungkinkan, mendesak sebuah pastoral antar paroki, di dalam sebuah jaringan.

Kemendesakan katekese ini makin ditunjang oleh kehidupan frenetik kita semua yang seolah-olah membawa kita pada budaya kekafiran, yang menjadi konteks kehidupan umat katolik di Gereja Perdana. Apakah di era digital ada sebuah kebudayaan tanpa Allah? Kita memerlukan kecerdasan akal budi dan hati yang berakar pada kontemplasi wajah Allah Bapa dan Putera-Nya yang berinkarnasi dan tinggal diantara kita.
Dengan demikian, katekese di era digital tidak bisa terlepas dari konteks digital yang menaungi manusia. Penggunaan berbagai macam teknologi hendaknya dilihat dalam cakrawala kontekstual, tidak hanya dalam fungsinya sebagai sarana komunikasi – informasi, melainkan juga menempatkan user-user yang terkoneksi sebagai subyek baru dengan budaya dan bahasa baru dalam ber-ada, berpikir dan bertindak. Maka dengan pembabtisan dan tugas yang kita terima sebagai saksi dari Kristus yang bangkit, kita dipanggil untuk mengenvangelisasi dunia digital beserta penduduk di dalamnya. Kita semua dipanggil untuk menjadi saksi pengharapan. Sebuah pengharapan, yang meski dalam kesulitan, itu tetap ada dan harus diwartakan.

Makalah didedikasikan untuk seminar mantan mahasiswa kataketik Universitas Atmajaya Jakarta
15 Desember 2012
P. Alfonsus Widhi, sx

mercoledì 7 novembre 2012

Testi spirituali - Teks bacaan rohani

Questa pagina ci propone uno strumento meraviglioso. Quando ho aperto per la prima volta teologia spirituale.it, mi sembrava di sognare! è incredibile che qui si può incontrare i testi antichi tradotti anche in varie lingue. Quei testi non sono semplicemente i prodotti dell'antichità cristiana, ma rivela soprattutto l'esperienza di fede dei singoli. e comunitari..... e a partire da questa amicizia con Dio, tante persone sono ispirate a crescere nella sequela del Signore, nella santità fondata sull'incarnazione di Cristo e nelle relazioni sociali con il prossimo. Ringrazio tantissimo ai direttori di questa pagina. è davvero un aiuto molto importante, sopratutto per noi che ci troviamo lontani geograficamente dalle fonti molto preziosi per il nostro cammino di fede. Buona lettura.

Halaman ini memberikan kepada kita sebuah sarana yang amat berharga. Ketika pertama kali saya membuka teologia spirituale.it, seolah-olah bermimpi rasanya. Karena apa? Karena di sini ditemukan berbagai sarana luar biasa dan amat berguna untuk memperkaya khasanah bacaan rohani kita. Memang sih tidak ada terjemahan bahasa indonesia.Namun, dari beberapa teks yang ada, halaman ini tidak hanya menyajikan sebuah produk antik dai zaman kuno, melainkan menyingkap sebuah pengalaman iman personal dan komuniter. Para penulisnya pun menunjukkan kualitas relasi perhabatan yang mereka jalin dengan Allah. Maka, banyak orang terinspirasi untuk berkembang dalam sequela Kristus, dalam upaya bertumbuh dalam kesucian berdasar inkarnasi Kristus dan dalam relasi dengan sesama. Terimakasih banyak pada para pengelola situs ini. Sungguh merupakan sebuah sumbangan yang amat berharga, terutama bagi kami yang tinggal jauh secara geografis dari sumber-sumber tradisi tertulis iman kita. Selamat membaca.

p. alfonsus widhi sx
postulat misionaris xaverian
Bintaro - Indonesia

sabato 3 novembre 2012

Model-model evangelisasi alternatif - kontekstual (01)

 
Gimana sih caranya ngewartakan Yesus Kristus pada manusia-manusia zaman sekarang? Kayaknya repot dan nambah kerjaan dech…. Boro-boro mikirin mo ngewartakan, orang kita beriman aja bernafas senèn kemis.. hahahaa…. Tapi klo dipikir-pikir, emang da rasa kewajiban juga sih, soalnya si Boss besar yang suruh kite-kite untuk mewartakan Injil-Nya sampai ke penjuru dunia. Buat tiap orang dan tiap generasi katolik pokoknya sama! Gak ada lebih kurangnya. Karena gak berubah-ubah gitu kali ya yang bikin selalu baru dan aktual. Lho.. katanya sama dari dulu.. mana aktualnya? Dah karatan kali… eh, itu kan pikiran elo! Kalo guè bilang, aktualnya dan barunya itu adalah trendnya yang berkembang tiap zaman. Kreativitas dari masing-masing actor untuk buat metode yang yahut dalam skenario situasi sosial yang menginterpelasi Gereja pada periode tertentu. Bukannya kita musti kreatif juga buat kasih alasan yang tepat tentang pengharapan yang terus kita bawa dalam kristus. Wah.. klo dah diskusi serius gini, mana guè tahan!!!!
Baik… ini cuman sebagai pembuka buat satu seri di blog ini untuk bicara soal model-model evangelisasi alternatif – kontekstual. Kayak yang jalan ketiga, yang alternatif itu khan lagi ngetrend zaman ini to… makanya, guè gak mau ketinggalan pake yang alternatif kayak ginian. Tapi, sebenernya sih, ini paper yang sudah diseminarkan pada extension course teologi di STF Driyarkara. Cuman bahasanya beda kali ya.. mungkin juga karena blog, kita pake gaya bahasa yang sederhana kali ya… biar situ gak pusing-pusing amat.
Makanya, untuk bantú kite-kite semua. Inti paper ini mau tetep menjaga kebaruan dan aktualitas gaya kita sebagai saksi iman pada Yesus. Kalau diri dah bisa bertobat, itu dah bagus dech….. paling tidak buat ngebuktiin pada temen-temen, sodare sodara di tempat kita hidup, bekerja, beranak cucu… dan sapa tahu, ada diantara kite-kite yang mau mengkopi surat Paulus pada jemaat di Filipus: bagiku, hidup adalah kristus dan mati adalah keuntungan. Baik matinya dia dan hidupnya dia, itu tetap berbicara dan meneguhkan iman banyak orang…. Ceile… kerèn amat!!!
Tapi ati-ati ye…. Klo baca seri ini, jangan sampe terjebak pada mencari metode doang dan lupa, klo mewartakan isinya!!! Wah, ini mah gak kerèn lagi namanya… makanya, ntar seri yang bagian pertama itu, kita akan menjernihkan istilah-istilah yang sering kita pakè. Lalu… beberapa seri akan meliat struktur dunia dan manusia yang alternatif dan kontekstual. Manusia alternatif itu yang gimana yak? Kita tunggu…. Lalu dalam seri penutup, wah … ini pasti ditunggu-tunggu, yaitu soal beberapa matriks buat sebuah model yang konkret, kontekstual, praktis, simple dan sederhana untuk bisa diterapkan dan dipraktekkan terutama pada diri sendiri.. hehehe…. Emang situ mau mengevangelisasi orang lain tanpa diri elo bertobat? Gak bisa donk!
See you dulu lah… ntar kita lanjutkan next time di serie 01.
Ciao.
alfonsus widhi sx
postulat xaverian bintaro

domenica 20 maggio 2012

Hari komunikasi sosial sedunia ke-46


Hidup tua di jalanan. Barangkali ini ungkapan pas untuk mendeskripsikan situasi kita di Jakarta. Macet, macet dan macet lagi. Habis waktu di jalan dua atau tiga jam untuk perjalanan dari rumah ke tempat kerja sudah menjadi biasa. Ini tentu melelahkan dan memboroskan banyak hal.
Kompas sabtu, 19 mei 2012 (hal. 33) bicara tentang kerja virtual pada halaman kompas karier (ide yang serupa sudah muncul 23 juli 2008, rapat virtual dan cara kerja modern). Artikel ini mengusulkan sebuah metode berbeda  demi efisiensi dan efektivitas kerja, yaitu dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Bukankah sudah ada lap top, iPad, kekuatan broadband dan kemajuan perangkat lunak untuk bekerja? Bukankah sudah ada web / video conference, online document sharing, wikis dan aplikasi lain sebagai sarana untuk bekerja? Sarana teknologi ini memungkinkan transfer kerja di kantor ke rumah.
Dengan motor-motor pencari di internet, kita bisa bertanya banyak hal, menerima dan menyebarkan informasi bermacam-macam, menjalin kontak, relasi dan membuat pertemuan dan bahkan mengagendakan sebuah rapat serentak dari 5 benua dalam waktu yang sama. Sampai-sampai kitapun kebanjiran informasi (bahkan yang tidak perlu) dan mengalami kesulitan untuk memilah-milah. Dengan demikian diharapkan bahwa pekerja bisa mengatur waktu (membagi waktu antara menggarap pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor, Hemat waktu, BBM, bisa antar jemput anak ke sekolah, bisa hemat emosi karena kemacetan dst.), tidak perlu pakai seragam (cukup pakai kaos oblong, lebih produktif?)
Tawaran ini cukup menarik buat pekerja kantoran, mahasiswa maupun siapa saja yang dalam kehidupan sehari-hari memerlukan media komunikasi sebagai sarana pokok untuk bekerja. Namun masih tetap DIPERTANYAKAN dan PERLU PEMIKIRAN: Bukan hanya soal hasil yang dicapai, tapi perlu «KEKUATAN PENGUKURAN KINERJA, jaminan pembinaan, pengembangan sistem, pencanangan prioritas dan manajemen waktu dst» (Rachman, E. - Savitri, S., «kerja virtual», Kompaskarier.com, p. 33).
Berhububung hari ini adalah hari komunikasi sosial sedunia, marilah kita persempit refleksi kita dalam SPIRITUALITAS DIGITAL: melihat pengalaman pribadi kita masing-masing ditengah-tengah kehadiran teknologi, sebagai sebuah tempat untuk mengembangkan hidup rohani. Paus Benediktus XVI menyodorkan sebuah tema untuk hari ini «parola-silenzio, word-silence, sabda-keheningan».

martedì 1 maggio 2012

Mengenang Vatican Blogger Meeting 2011


Ketika orang-orang Spanyol menemukan benua Amerika dan secerna sinar mulai menerangi malam, sejarah dunia mulai menunjukkan gejolak perubahannya. Gaya hidup manusia pun mulai bertransformasi. Baru saja tergugah oleh kisah di fajar milenium ketiga yang baru saja terbangun, Vatikan mengundang para blogger untuk berkumpul bersama, sehari setelah beatifikasi Paus Yohanes Paulus II tahun 2011 silam. Tidak semua blogger yang  diundang adalah blogger katolik, tetapi yang menjadi target utama adalah kemajemukan dan variasi para blogger hendaknya mewakili berbagai bidang karya dan lapisan masyarakat.
Dalam sarin ini saya hendak menceritakan beberapa point yang menjadi bahan pertemuan kemarin dan kemudian beberapa refleksi  dari sudut pandang spiritualitas dan kemungkinan pengembangannya. Terima kasih terutama kepada P. Antonio Spadaro, SJ yang memberi kami empat tujuan dasar untuk menempatkan berbagai intervensi yang telah dibuat.
Pertama, pertemuan ini adalah untuk mendorong dan meneguhkan para blogger untuk hadir secara lebih intensif di dunia digital, guna mempertemukan Sang Sabda dan setiap orang yang hadir di dalam dunia maya ini. Dalam perjumpaan tersebut, kita juga harus berani menghadapi tema-tema yang sulit dan rumit sehubungan dengan Gereja. Apakah pertemuan ini akan menjadi sebuah perseteruan? Mungkin saja! Keragaman itu ada dan tidak bisa dipungkiri lagi.

giovedì 8 marzo 2012

Allah berbicara di internet?


Pada hari minggu ketiga prapaska ini kita melihat bagaimana Allah mengkomunikasikan diri lewat sepuluh perintah-Nya kepada Musa di atas sebuah gunung, sebagaimana dilukiskan oleh tradisi dari kitab Keluaran.
Masihkah pewahyuan itu berkelanjutan hingga saat ini?
Pertama, kalau pada zaman Nabi Musa, perwahyuan ini digambarkan amat dahsyat, bagaimana sekarang? Kita ingat bahkan dalam film the ten commandments, sang sutradara memberikan efek-efek yang memberi kesan keagungan yang menggetarkan hati nurani. Adakah penampakan yang ajaib ini terulang dengan fenomen luar biasa dan menghebohkan atau, sarana yang dipergunakan oleh Allah akan turut juga berubah?
Kedua, komunikasi antara Allah dan manusia kiranya mulai disadari bahwa relasi ini tidak menjadi privilegi bagi orang-orang tertentu, bagi mereka yang tinggal di tempat tertentu atau bagi kelompok berstatus social tertentu. Allah bebas dalam menyatakan diri-Nya kepada siapa saja dan dengan berbagai macam sarana yang Dia kehendaki.
Pertanyaan saya: termasuk internet? Apakah Allah sudah secanggih kita di zaman modern ini? Eh, barangkali pertanyaannya perlu dikoreksi kali ya???
Memang di satu sisi, internet menawarkan sebuah model dan bentuk baru berkomunikasi: jarak, waktu dan ruang menjadi relatif, pertemuan 5 orang dari lima benua bisa diadakan pada waktu yang bersamaan, orang bisa bertindak dari jarak jauh tanpa dia sendiri harus hadir di tempat kejadian, nilai fisik kepribadian manusia menjadi relative dan ini menawarkan sebuah bahaya laten bagi para homo electricus: terjebak dalam internet dan tidak tahu mau kemana. Jadinya, habis waktu berjam-jam hanya untuk melihat-lihat dan memuaskan egoisme belaka.
Bagaimanakah kita menghubungkan antara yang real dan yang obyektif? Apakah diantara keduanya ada perbedaan? Apakah yang kita temukan dan lihat di internet itu selalu obyektif? Atau merupakan realitas konkret? Ah … kiranya ini perlu satu pendalaman lagi di lain waktu. Lebih baik kita kembali ke pertanyaan tentang kemungkinan perwahyuan dari Allah di dalam internet dan atau kemungkinan Allah mengkomunikasikan dirinya lewat teknologi.
Kiranya tak perlu bersibuk ria melipatgandakan dan menciptakan sebuah bentuk berelasi yang baru, meskipun teknologi yang ditawarkan terus berkembang. Apalagi Apple baru saja meluncurkan produk iPad 3 bulan ini. Hal yang paling penting perlu disikapi adalah mengintegrasikan pesan dalam konteks kebudayaan yang baru yang dibawa oleh arus komunikasi dunia modern.
Pernah kita dengar homo sapiens, homo socialis, homo hominis lupus ecc… kini muncul istilah Homo electricus yang menjadi karakter para browser. Tapi rupanya, homo electricus kita di dalam dunia maya ini masih terlalu rapuh, misalnya:
  • Dia masih membutuhkan pusat perhatian dan menjadi pusat seluruh alam semesta atau semua orang di sekelilingnya.
  • Dia masih juga mengklaim hak untuk mengetahui segalanya dan berhak untuk ber-ada.
  • Dia haus untuk berkomunikasi, bertemu dengan orang lain dan didengarkan.

Kerapuhan ini menemukan tempat berekspresi dalam dunia internet?
Bisa jadi.
Internet menjadi sebuah medan pertempuran antara «aku ideal» dan «aku actual», sebuah lahan dialog dan perdebatan antara kebenaran dan kebohongan, sebuah ruang relasi humanis, sebuah kamar pertemuan antar budaya, tapi juga sekaligus sebuah sarana penyalahgunaan! Siapa yang berpengaruh dalam menentukan keputusan apakah internet akan menjadi sarana yang ampuh untuk pengembangan diri atau untuk penyalahgunaan? Di sinilah letak pentingnya kedewasaan pribadi para browser. Sebuah kedewasaan yang merupakan buah dari sebuah pendidikan di dalam keluarga, di sekolah atau kampus, di tempat kerja dan di lingkungan dimana para browser itu tinggal.
Dimana Gereja? Apakah Gereja sudah memanfaatkan sarana internet, menolaknya atau bersikap menjadi penonton sebuah dunia yang sedang berubah, yang sedang mencampuradukkan jaringan social virtual dengan jaringan yang real dan mengedepankan pentingnya sebuah face to face?
Silahkan membaca ensiklik Redemptoris missio dari Paus Yohanes Paulus II, the Church and internet dan Ethics in internet yang diterbitkan oleh Pontifical Counsil for Social Comunications.

Disarikan dari: Grienti, Vincenzo, Chiesa e Web 2.0. Pericoli e opportunità in rete, Cantalupa, Effatà 2009, 95 pp. 

p. alfonsus sx
Wisma xaverian, Bintaro. 8 maret 2012

Lettura d'oggi

Friends