Visualizzazione post con etichetta Missionari Saveriani. Mostra tutti i post
Visualizzazione post con etichetta Missionari Saveriani. Mostra tutti i post

lunedì 4 novembre 2013

Religious life and Apostolic charism of San Guido Conforti

Conforti's crucifix at Mother house of the Xaverian Missionary in Parma
 The reality of the mission in the era of Conforti was favored by a strong idea that the identity of the mission is "to go away and for a long time." These actions, of the so-called mission in a foreign country, are often treated with the proper identity of the missionaries. It is an undeniable fact that the missionaries have given a great contribution not just in the mission. The same antithesis is also true with regard to 'burn-out' of the missionaries. Despite the very context define the way of the mission, the danger remains behind the door in the mix of the nature of the charism and the ways of expressing it, or between the orders with the hierarchical structural conditions of the state of life. The open trap of this concept is when you reduce the mission only as the "go," reducing the "live-in"; or when the existence of missionary be reduced only in the "land of mission at foreign", rejecting the Church which sent him as a missionary. The imbalance the way of thinking threatens the emptying of interiority which coincides to the person. This language pessimist does not seek to give a justification behind the crisis of the mission or the forfeiture of the missionary vocation today, but go to see the core of the mystical experience of Conforti with Jesus Christ crucified so that you may keep alive "the Christ's love that imples us forward" (2 Cor 5:14).
San Guido Maria Conforti
The Crucifix speaking from the silence of the oratory of Peace, increasing the listening heart of the young Conforti to understand "et omnia in omnibus Christus."The heart of this man is to small, called by Cardinal Angelo Roncalli as "a shepherd and two flock," but "the holy shepherd of the only flock in the Church of God," to hold the love of the cross that leads to totality of the gift of self for the consecration and mission of the Father. That love of the Father does not stop in the life of Jesus Christ, but overflows through his death, dripping from his side (cf. Jn 20:27). Only the grace of God and the generosity on the part of man can welcome him intimately, sharing it with all those who do not know and still love the One who gave His life for all, even unto death on a cross (cf. Phil 2:8 ). Contemplating under the crucified Jesus ensures the perfect setup and balanced between the state of election, of consecration and that the mandate of the mission in Jesus Christ, the Father's missionary par excellence.
At first reading of the Xaverian charism and the current phenomena that affect the religious-apostolic life, no one thought a reading so structured and well-articulated being discovered little by little along the way. There is no novelty, nor last word presented in this article, because all the spirituality are rooted in Jesus Christ and his Gospel. It is when it comes to the ways in which a child of Conforti, after a century, try to understand the mystical intuition of its founding father. Reading his writings and comparing them directly with the context of today, I try to capture in this present work, a creative reading to extract the charisma of Conforti.
The experience gained during the arrangement of the work has become an opportunity to learn the spirit that animate the religious - apostolic life of Conforti. It is the gift that is always free and in order to build up the community. First, i feel that it is the gift of God for the whole Church through the docility of Conforti to let his life formed and transformed by the Holy Spirit who inspires to relive the experience "et omnia in omnibus Christus" (Col 3:11). Another gift comes from my confreres who share their life, work, thought, and their fraternity. Thanks for all. May our Lord Jesus Christ, be the heart of the world.
Fr. Alfonsus Widhi, sx
Xaverian Missionary in Jakarta

sabato 22 giugno 2013

Kapitel General Xaverian - 17 juni 2013


Hari ini dimulai dengan doa kepada St. Guido Conforti. Seluruh kapitularis hadir, kecuali P. Vincenzo Munari, yang masih berada bersama keluarga karena meninggal saudaranya Valentino. P. Gabriel Ferrari mewakili para kapitularis untuk hadir pada pemakamannya, hari rabu di Mason Vicentino.
Seluruh hari ini dikhususkan pada presentasi dari berbagai regio xaverian di Afrika.

Burundi
Presentasi hari ini dimulai oleh P. Modesto Todeschi, superior regional dari Burundi. Di sini ada 17 misionaris xaverian. Sambil mengingat perjalanan karya misi yang sudah dilaksanakan, P. Modesto menekankan beberapa aspek positif, permasalahan aktual dan tantangan bagi evangelisasi di negara yang prosentasi umat katoliknya lebih tinggi di Afrika, namun masih ditandai dengan konflik etnis yang dalam. Hal ini mendesak bagi para misionaris yang masuk di dalam gereja setempat untuk terus memperjuangkan perdamaian dan rikonsiliasi.
Di dalam situasi intern para xaverian, salah satu permasalahan pokok regio Burundi yang ditekankan oleh pastor provinsial adalah penuaan dari para konfrater dan kehadiran sangat minim dari kaum muda. Rencana kita ke masa depan adalah mengupayakan kegiatan animasi panggilan dan pendidikan secara lebih serius, karena komunitas-komunitas setempat merupakan ladang yang subur dengan berakar pada sisi kemanusiaan yang mendalam.

Kamerun-Tchad
Presentasi dari Kamerun-Tchad, dengan 54 konfrater aktif, diwakili oleh P. Armando Coletto, superior provinsial. Pada presentasi ini ditampilkan wajah kegiatan aktivitas misioner yang mendalam di bidang karya misi, dialog antar agama, dialog budaya dan pemberdayaan budaya setempat.
Salah satu keprihatinan di sana adalah kehadiran kelompok islam fondamentalis, yang hadir dengan kemampuan rendah serta inisiatif yang rendah. Menurut P. Coletto, perlu mengusulkan pendalaman karisma kita yang terarah pada karya misi ad gentes. Juga di Kamerun-Tchat, ada resiko jatuh ke dalam karya pastoral populer, demikian provinsial menegaskan. Menjadi lebih mendesak sekarang membuka selalu jalan-jalan baru, dengan meninggalkan kepada keuskupan pengaturan komunitas umat katolik yang sudah cukup terorganisasi.

Republik Demokrasi Kongo
Provinsial RD Kongo, p. Faustino Turco, mewakili regio yang beranggotakan 41 konfrater xaverian. Dia mengawalinya dengan mengutip pernyataan dari Uskup Agung Bukavu kepada para xaverian demikian: “kehadiran kalian membawa angin sejuk di dalam komunitas keuskupan. Ini berkat karisma dan semangat kreativitas yang kalian miliki, serta kemampuan untuk beradaptasi dan berintegrasi di tengah-tengah masyarakat.
P. Faustino menggarisbawahi komunio dengan gereja setempat, pastoral misioner paroki, keterbukaan pada kehadiran yang baru, animasi misioner dan panggilan serta dialog dengan budaya setempat. “Kekuatan untuk berada bersama”, yang merupakan ungkapan dalam budaya “shi”, merangkum apa yang ingin kami sampaikan pada presentasi kami, demikian provinsial Kongo menegaskan. Kami menyampaikan pendekatan historis para perjalanan yang sudah dilewati, dengan memberi tekanan pada merla yang telah berjasa dan memberikan hidupnya pada gereja ini. Tantangan besar bagi misi di Kongo adalah: pengakuan akan keberadaan orang lain, melihat orang lain secara positif, dan bukan sebagai sebuah ancaman.
Pembicaraan tentang presentasi ini dilanjutkan pada siang hari juga. Berkaitan dengan aspek-aspek yang perlu diperbaiki, P. Turco menyimpulkan: “kita tidak setegas seperti semula. Dulu, mereka dengan tegas melaporkan situasi ketidakadilan. Sekarang, lebih dicari jalan dialog dan rundingan, dengan bahaya terjerumus dalam kesalahan fatal”.

Mozambik
Presentasi keempat disampaikan oleh P. Fabio D’Agostina, superior delegasi Mozambik, yang terdiri dari 10 konfrater xaverian. Dalam presentasi ini digarisbawahi terutama situasi sosial politik yang mewarnai negara ini dengan beberapa prospek perubahannya, konteks kehidupan beragma dan menggerja serta situasi internal para xaverian. “kita hidup di daerah dimana kongregasi yang lain tidak menerimanya. Oleh sebab itu, kita berupaya untuk tetap tinggal bersama dengan masyarakat, dengan satu gaya hidup sederhana yang membuat kita diterima dengan baik oleh mereka”.
Menurut P. D’Agostina, “kehadiran kita di Mozambik berjalan searah dengan karisma xaverian. Di sini ladangnya sangat luas untuk dikerjakan. Harapan saat ini adalah melebarkan karya pastoral juga dalam panggilan dan pendidikan”.

Sierra Leone
P. Carlo Di Sopra melaporkan situasi di Sierra Leone, dimana 19 konfrater xaverian berkarya di dalam 7 komunitas dan 5 paroki. Bagian pertama dari presentasi berbicara tentang situasi peralihan yang sulit dari Uskup Biguzzi kepada penggantinya di Keuskupan Makeni. Itulah sebabnya muncul P. Paganelli sebagai administrator apostolik. Namun, situasi hingga saat ini nampaknya masih tanpa prospektif jalan keluar yang baik.
P. Di Sopra melukiskan karya para xaverian di berbagai paroki di tengah-tengah mayoritas umat islam, di bidang kesehatan, di universitas Makeni, di bidang pendidikan sekolah umum, dengan mengangkat tema bahwa para xaverian sedang berada dalam masa peralihan dari tahap “konstruksi” menuju tahap yang lebih menekankan aspek pastoral dan pendidikan. Diantare berbagai macam proyeksi ke depan, amat menonjol aspek dialog dengan islam, karya animasi panggilan dan pendidikan.
Diskusi dari presentasi ini banyak berkisar tentang aspek rikonsiliasi berbagai macam etnis, berangkat dari situasi yang terjadi di Makeni: reaksi permusuhan terhadap yang lain, bisa menjadi sebuah gejala evangelisasi yang kurang? Jawaban atas pertanyaan ini memerlukan discernment yang teliti dan mendalam. Kemudian, P. Carlo menegaskan bahwa “para xaverian di Sierra Leone berharap bahwa kapitel general mampu memyemangati mereka pada saat situasi sulit saat ini”.

By p. Stefano Raschietti, sx
Tavernerio, 18 juni 2013
terj. P. Alfons sx
 

venerdì 29 marzo 2013

La storia dalla missione (il Giovedì santo)

Questo è un piccolo episodio di vita come gli altri. Una cosa che mi stimola per condividere con voi è di come le persone che ho incontrato lo vedono dal punto di vista della fede. è successo questo episodio in un vilaggio dove i cattolici sono di minoranza numerica, vivono in mezzo alla foresta della piantagione di palma d'olio e tra il lavoro, il riposo e la preghiera, cercano sempre di equilibrare e di integrare la loro vita in questi tre ambienti. Così è la storia.....
Oggi, il mercoledì santo, insieme con il parroco, siamo andati in una comunità di 80 chilometri circa dalla parrocchia. È una piccolissima comunità molto attiva. Abbiamo il coraggio per andare perché una ventina di persone ha chiesto le confessioni prima di pasqua. è la prima volta nella storia che questo vilaggio ha questa possibilità. Certo che è difficile da accettare questa situazione, visto che la parrochia stessa ha una ventina delle comunità, in cui una comunità è costituita dalla 30 al più di 200 famiglie. Perciò, in questi giorni, bisogna discernere bene quale comunità da servire, visto che la distanza geografica determina la condizione fisica dei missionari che prestano il servizio in questa parrocchia.
Visto che non possiamo celebrare il triduo pasquale in questa comunità, allora abbiamo scelto proprio oggi per il sacramento della riconciliazione. Siamo partiti verso le 14.00 sotto il sole fortissimo e siamo tornati a casa verso le 20.00 sotto la pioggia equatoriale molto forte anche. Ringraziamo il Signore, la nostra vecchia macchina ci ha protetto lungo il viaggio. Una cosa mi ha fatto impressionare. Quando siamo arrivati in chiesetta in mezzo alla piantagione del palma d’olio, c’era soltanto una persona. Ma, dicevo, dove sono gli altri? Poi egli mi ha spiegato che c’era un lutto nella comunità, perciò tutti erano ancora nella casa del defunto.
Dopo un quarto d’ora circa, alla fine sono arrivati una ventina di persone per le confessioni. È stata una bellissima celebrazione comunitaria e molto toccante. Ho ascoltato e ho visto che, davvero…. qui il sacramento della riconciliazione trasforma la vita delle persone passo dopo passo. C'erano delle persone che avevano preparato questo momento in modo serio. Perciò, hanno fatto una bellissima confessione e hanno raccolto un frutto da vivere quotidianamente... a partire da Cristo.
Dopo le celebrazioni, insieme con il parroco, siamo andati a pregare insieme nella famiglia per dare le condoglianze. Quando siamo arrivati a loro casa, ho visto la salma è messa come se fosse egli sta dormendo per terra, accerchiato dalla sua famiglia e dai suoi parenti. La gente convive con la morte! Non ho vista la paura dai loro volti. Ho l’impressione che questo piccolo gregge accoglie la morte come sorella e fa parte della loro quotidianità. Non c’è la paura nei loro volti tristi. Anzi, c’è il coraggio per affrontare questo episodio della vita. Si radunano con i piedi intrecciati intorno alla salma aperta, messa per terra, con il viso soridente, dormendo.
Una signora, dopo aver pregato insieme, ha detto al pubblico sottolineando la grazia di Dio che adombra la morte di questo signore. Come possiamo dire la grazia? Lei ha detto poi che questo signore defunto aveva lavorato per la chiesa, l’aveva costruita dall’inizio, aveva dato tutto quello che aveva per la vita di questa comunità e il Signore l’ha chiamato durante la settimana santa, anzi, addirittura c’erano qui due missionari che pregano per loro dopo le confessioni nella comunità. È impossibile se volessimo ragionare.
Ascoltando ciò che la signora ha detto di fronte al pubblico, pensavo davvero che la nostra presenza è più di una presenza fisica. Non cercano me, ma cercano Gesù che è presente attraverso la nostra presenza fisica. Oltre la debolezza umana di noi missionari, questo piccolo episodio è davvero un profumo di olio versato sui piedi di Gesù. Anche noi possiamo sentire la consolazione e la gioia che il Signore ci regala in mezzo alla stanchezza fisica che abbiamo per servire il suo gregge.
Alla fine, ringraziamo il Signore, che ci ha fatto vedere il frutto maturo della nostra testimonianza. Ringraziamolo per la maturità della fede che il Signore dona alle persone affidate a noi. Basta un sorriso e una espresione semplice per farci capire che il Signore è in mezzo a noi.... Grazie Signore.

P. alfonsus widhi sx
da Pekanbaru - Sumatra

sabato 28 aprile 2012

Sehari bersama calon imam



inilah keseharian kami juga ...
anche queste immagini raccontano le cose che stiamo preparando per la missione

Sejenak bersama calon imam



Inilah kehidupan kami di tahun postulat dari Serikat Misionaris Xaverian di Jakarta
Questa è un po' delle nostre attività nella formazione dei missionari saveriani a Jakarta

mercoledì 12 ottobre 2011

Guido Maria Conforti: Vocazione - Missione



Parte da una chiamata attraente che ci ricorda i momenti belli in cui il Signore bussa il nostro cuore e noi siamo disponibili per aprirlo.
«Negli anni più belli della vostra vita avete udito l’invito di Cristo che vi chiamava a seguirlo da vicino, e voi avete generosamente risposto: ti seguiremo ovunque tu vada, andremo dovunque tu voglia, sarà nostra gloria militare per tutta la vita agli ordini tuoi».
«E noi dobbiamo intendere la voce del Signore, seguire i suoi impulsi ed assecondare le sue mire, che sono sempre mire di bontà e di amore. Egli, quando parla, riprende, incoraggia, stimola, consola. E comprenderemo il tono della sua voce, se, in quanto succede intorno a noi, riconosceremo le disposizioni ammirabili di quella amorosa Provvidenza che tutto dispone al nostro vero bene. Comprenderemo la voce del Signore se ci sforzeremo di acquistare quell’abituale unione con Dio, che anche in mezzo alle più svariate occupazioni, ci farà vivere in un’atmosfera soprannaturale, ove non giungono i turbini e le tempeste che offuscano il sereno dell’anima»
«Voi siete chiamati ad attrarre attorno al trono ed alla cattedra della sua croce i popoli, perché abbiano a riconoscere il suo dominio, ad accogliere i suoi insegnamenti, a gustare i dolci frutti di quella fratellanza che egli ha suggellata col suo sangue divino».
«Se vogliamo compiere degnamente la grande missione, prepariamoci alla medesima, sull’esempio del Battista, colla preghiera e colla mortificazione. Ed intanto studiamo profondamente Gesù Cristo attraverso le pagine del Vangelo, attraverso il suo Cuore divino, bonitate et amore plaenum, sforzandoci di uniformare ad esso il povero nostro cuore».

Ai missionari in partenza, San Guido Maria Conforti esorta di ricordare sempre quel momento glorioso dove la consolazione è in abbondanza. È un momento forte che sostiene le esperienze debole della caduta e della prova per purificare la nostra risposta all’unica chiamata di Dio per amare.
«Tra breve abbandonerete questo santo luogo, ove avete sentita la voce del Signore che vi chiamava a seguirlo da vicino, ove avete emessa la vostra professione religiosa, ove avete provate tante soavi emozioni. State per compiere un grande sacrifizio, ma che voi compite con grande generosità ed animo ilare. E questo perché è la fede che vi ispira, la quale vi fa vedere nell’apostolato a cui vi accingete una continuazione dell’apostolato stesso di Cristo. Perché è la speranza che vi anima, ben sapendo che se a tutti sta promesso il regno de’ cieli, a coloro che abbandonano ogni cosa per seguire Cristo è riservato il centuplo nella vita eterna che ci attende»
«Vi raccomando pure di tenere sempre dinanzi alla mente lo scopo particolare ed unico a cui tende l’Istituto nostro che è la dilatazione del Regno di Dio tra gl’infedeli e che a questo scopo dobbiamo far convergere tutte le nostre energie».
«Chiunque tendesse al conseguimento di altre finalità, fossero pur commendevoli in se stesse considerate, verrebbe meno allo spirito della propria vocazione. Nessuno adunque si lasci adescare da altri miraggi e ricordiamoci che in questa unità d’intenti è riposto il segreto della floridezza del nostro Istituto».
«Ognuno di noi sia quindi intimamente persuaso che la vocazione, alla quale siamo stati chiamati, non potrebbe essere più nobile e grande, come quella che ci avvicina a Cristo autore e consumatore della nostra Fede ed agli Apostoli, che, abbandonata ogni cosa, si diedero intieramente senza alcuna riserva alla sequela di lui, e che noi dobbiamo considerare come i nostri migliori maestri: Il Signore non poteva essere più buono con noi»!
«E se noi resteremo fedeli all’Istituto al quale abbiamo dato il nome, ne osserveremo le Costituzioni e lavoreremo in esso agli ordini di chi ci è Superiore, potremo star sicuri di accumulare molti meriti, salvare molte anime e conseguire il premio riservato a chi avrà posto mano all’aratro senza volgersi indietro; il centuplo che Cristo ha promesso in particolare a’ suoi Apostoli».
Tratti dalle PgCf e le lettere circolari

Guido Maria Conforti: Figura del Missionario



"Il Missionario è la personificazione più bella e sublime della vita ideale. Egli ha contemplato in ispirito Gesù Cristo che addita agli Apostoli il mondo da conquistare al Vangelo, non già colla forza delle armi, ma colla persuasione e coll’amore e ne è rimasto rapito. Ed egli a questo ideale sacrifica la famiglia, la patria, gli affetti più cari e legittimi"

"Si addentra a selve inospitali, attraversa deserti infuocati, slitta sui ghiacci del polo; non in cerca di oro e di gemme, ovvero d’avorio, di rare pelliccie, o di legni preziosi, ma unicamente in cerca di anime da conquistare alla Fede di Cristo; non già armato di spada e di fucile per spianare tutte le difficoltà che incontra ed abbattere chi cercasse attraversargli la via, ma armato unicamente della croce di Cristo, pronto sempre a versare il proprio sangue, se questo sarà necessario pel bene dei fratelli, anzi col desiderio in cuore di suggellare col martirio il proprio apostolato"

uno dei viaggi dei missionari a Mentawai
"Ma come rendersi superiori a tanti pericoli, a tante difficoltà, la solitudine, l’abbandono, i cattivi esempi, la mancanza di certi aiuti spirituali. Rispondo: Il Signore non permette mai che noi siamo tentati al disopra delle nostre forze. Il Signore dà a tutti la grazia necessaria. «Super aspidem et basiliscum ambulabis, conculcabis leonem et draconem» - «Omnia vincit amor» e se noi conserveremo il fervore della carità, ci renderemo a tutto superiori (22.8.1921)"

"La missione del Sacerdote consiste principalmente nell’illuminare le menti colla verità. Perciò chi è chiamato allo stato ecclesiastico deve procurarsi la dottrina della quale dovrà un giorno essere maestro agli altri e con essa le altre cognizioni atte ad illustrarla"

"Ogni missionari non ometterà mai di fare ogni giorno prima della celebrazione del divin sacrificio, almeno mezz’ora di meditazione e così pure non lascierà mai l’esame di coscienza alla sera, la visita al SS. Sacramento, al recita del santo rosario e dell’Angelus, la lettura spirituale almeno per venti minuti e dove ha luogo la comunità tutte queste pratiche si faranno sempre in comune con orario determinato e stabile"

"Così pure in tutte le case dell’Istituto si farà ogni mese il ritiro mensile ed ogni anno almeno una settimana di spirituali esercizii. Anche coloro che si trovano in missione, per quanto il consentiranno le circostanze di tempo e di luogo, procureranno di compiere queste pratiche di pietà, tanto utili per mantenere ed alimentare lo spirito della vocazione apostolica"

nel mondo... ma non del mondo!
Ed io vi saluto, e m'inchino dinanzi a voi, fortunati banditori del Vangelo ed esclamo coll’accento dell’ammirazione: quanto son belli i piedi di coloro che annunziano colla buona novella, la redenzione e la pace di Cristo!"

Tratto dalle PgCf, FCT e Regola del 1917

martedì 11 ottobre 2011

Guido Maria Conforti: Abbandono in Dio


I Santi vivevano in un totale abbandono in Dio e per questo niente li turbava. Così dovremmo fare noi; abbandonarci in Lui in tutti gli eventi della vita, riconoscendo in essi le ammirabili disposizioni della sua provvidenza (Pagine Confortiane § 1393)


  • @ Abbandono in Dio negli eventi: Si vede Dio nell'universo, nel Crocifisso, nel Tabernacolo. Dobbiamo vederlo, anche in tutto quello che avviene.
  • @ Abbandono in Dio nelle gioie: La gioia e retaggio dei fervorosi, mentre la pigrizia è madre di tristezza. Se il Signore ci visita colle consolazioni, ci fa gustare le dolcezze del suo amore, ringraziamolo
  • @ Abbandono in Dio nei patimenti: Il dolore distacca dalle cose della terra. Il dolore ci fa conoscere la realtà delle cose
  • @ Abbandono nei peccati: Facciamo quello che possiamo per metterci in ordine con Dio tutto il male che possiamo aver fatto e nulla in confronto di quello che facciamo mancando di fiducia
  • @ Abbandono in Dio nelle imperfezioni: Quando commettiamo qualche mancanza non ci stupiamo. Non è cosa strana che l'infermità sia inferma, la debolezza debole, la miseria misera. D'altra parte la vista delle nostre debolezze deve servirci a mantenerci nell'umiltà
Tratto dalle Fonti Confortiane Teodoriane Abbandono in Dio (FCT XX, 255-256) 

Click 2.0: Guido Maria Conforti. Dalla crisi alla sintesi: il...

Click 2.0: Guido Maria Conforti. Dalla crisi alla sintesi: il...:
Quando parliamo della crisi, c’è un’aria delle circostanze sfavorevoli che intralcia l’andamento della vita. Ma non è sempre la crisi conduce ad una situazione peggiore, anzi, san Francesco d’Assisi ha creato il cantico nel momento più difficile della sua vita e san Giovanni della Croce ha scritto la poesia più bella nel momento in cui i suoi confratelli l’hanno carcerato. Ciò che determina la direzione è il modo in cui uno gestisce questa situazione.
Possiamo approfondire qualche tappa nella vita di Conforti mi concentro soprattutto nel momento delicato della scelta di vita missionaria e il mandato ricevuto dal Santo Padre come il vescovo di Ravenna. Sono due eventi importanti che determinano due grandi famiglie, che sono la famiglia dei missionari saveriana e la famiglia della Chiesa locale; entrambi sono di un solo gregge di Gesù Cristo.

lunedì 25 aprile 2011

Lettura d'oggi

Friends